Ajang Beijing Auto Show 2026 yang berlangsung hingga awal Mei menampilkan lonjakan teknologi kendaraan listrik melalui peluncuran BYD Atto 1 model terbaru. Mobil listrik kompak ini kini dibekali sensor LiDAR dengan sistem bantuan pengemudi God's Eye B dan jarak tempuh yang meningkat hingga 505 kilometer. Peningkatan efisiensi motor listrik ini bertujuan memperkuat dominasi BYD di pasar entry-level global dan menghilangkan kekhawatiran jarak tempuh bagi pengguna urban.

Brand pendatang baru Lepas turut mencuri perhatian dengan melakukan debut global untuk model E4 dan E6 BEV. CEO Lepas, Zai Xiaobing, menyatakan bahwa kedua model SUV tersebut dirancang khusus untuk memenuhi standar mobilitas cerdas di Asia dan Eropa. Model E4 dijadwalkan akan segera meluncur di Indonesia sebagai bagian dari ekspansi strategis grup Chery di wilayah Asia Tenggara untuk bersaing di segmen kendaraan listrik terjangkau.

Pabrikan Jetour memperkenalkan konsep SUV listrik Jetour TX yang mengusung estetika retro-modern dengan fitur teknologi energi baru. President Jetour International, Ke Chuandeng, mengonfirmasi bahwa perusahaan telah menyiapkan lini produk S03 dan S05 untuk mempercepat transisi ke kendaraan listrik murni secara global. Jetour TX diposisikan sebagai penantang baru di segmen SUV tangguh yang menggabungkan desain klasik era 1990-an dengan performa baterai modern.

Di Indonesia, PT VinFast Auto Indonesia terus mengakselerasi pembangunan ekosistem EV dengan target produksi massal di pabrik Subang pada kuartal pertama tahun ini. CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, menegaskan komitmen investasi total sebesar 1 miliar dolar AS untuk meningkatkan kapasitas pabrik hingga 350.000 unit per tahun. Fasilitas di Jawa Barat ini diproyeksikan menjadi pusat produksi kendaraan kemudi kanan utama untuk pasar ekspor di kawasan ASEAN.

Analis otomotif mencatat bahwa dominasi fitur otonom dan integrasi AI menjadi tren utama yang diusung hampir seluruh peserta pameran tahun ini. Persaingan harga yang semakin agresif di pasar domestik China diprediksi akan memicu penyesuaian harga jual EV di pasar internasional dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini menandai babak baru dalam kompetisi industri otomotif global yang semakin terfokus pada efisiensi perangkat lunak dan keberlanjutan energi.