Microsoft resmi memperkenalkan kategori komputer baru bernama Copilot+ PC dalam acara di kantor pusatnya di Redmond, Washington. CEO Microsoft Satya Nadella menyatakan bahwa perangkat ini dirancang khusus untuk menjalankan model kecerdasan buatan secara lokal tanpa bergantung sepenuhnya pada pusat data cloud. Langkah ini diambil untuk mempercepat adopsi AI generatif dalam penggunaan sehari-hari.
Komputer dalam kategori ini wajib memenuhi spesifikasi minimum NPU (Neural Processing Unit) dengan performa 40 triliun operasi per detik (TOPS) dan RAM minimal 16GB. Salah satu fitur unggulannya adalah Recall yang memungkinkan pengguna mencari aktivitas masa lalu melalui tangkapan layar berkala yang disimpan secara privat. Microsoft menargetkan penjualan hingga 50 juta unit AI PC dalam satu tahun ke depan.
Di tengah peluncuran perangkat keras tersebut, OpenAI menghadapi protes keras dari aktris Hollywood Scarlett Johansson terkait fitur suara pada model GPT-4o. Johansson menyatakan keterkejutannya atas kemiripan suara asisten AI bernama Sky dengan suaranya sendiri. Ia mengungkapkan bahwa CEO OpenAI Sam Altman sempat menghubunginya pada September lalu untuk bekerja sama, namun tawaran tersebut ia tolak.
Menanggapi polemik tersebut, OpenAI memutuskan untuk menangguhkan penggunaan suara Sky di seluruh platformnya sejak awal pekan ini. Perusahaan yang berbasis di San Francisco itu membantah telah meniru suara Johansson secara sengaja dan mengklaim suara tersebut milik aktris profesional lain. Meski demikian, OpenAI menyampaikan permintaan maaf atas kurangnya komunikasi dalam proses pemilihan talenta suara.
Perkembangan ini memicu perdebatan global mengenai perlindungan hak cipta dan identitas digital di era kecerdasan buatan yang berkembang pesat. Para pakar hukum menilai kasus Johansson dapat menjadi landasan penting bagi regulasi baru terkait penggunaan kemiripan suara manusia. Industri teknologi kini berada di bawah pengawasan ketat mengenai etika pengembangan asisten virtual masa depan.