Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengonfirmasi telah menonaktifkan salah satu instrumen sains utama pada wahana Voyager 1 per 17 April 2026. Keputusan ini diambil oleh tim teknis di Jet Propulsion Laboratory (JPL) sebagai upaya darurat untuk menghemat pasokan listrik yang semakin menipis pada wahana yang kini telah berusia 49 tahun tersebut.
Voyager 1 saat ini tercatat berada pada jarak sekitar 15,8 miliar mil atau setara dengan 25,4 miliar kilometer dari Bumi, menjadikannya objek buatan manusia terjauh di ruang antarbintang. Mantan Manajer Proyek Voyager, John Casani, menyatakan bahwa desain awal wahana ini tidak diproyeksikan untuk beroperasi lebih dari tiga dekade, sehingga pencapaian teknis saat ini telah melampaui ekspektasi awal misi.
Instrumen yang dinonaktifkan adalah Low-energy Charged Particles (LECP), sebuah perangkat sensor yang berfungsi mendeteksi ion, elektron, dan sinar kosmik. Penghematan ini menjadi krusial karena generator termoelektrik radioisotop berbasis plutonium pada wahana tersebut mengalami penurunan daya alami sekitar empat watt setiap tahunnya akibat peluruhan radioaktif.
Selain kendala energi, tim kendali di Bumi harus terus menyeimbangkan suhu internal komponen agar tidak membeku di tengah suhu ekstrem ruang hampa. Strategi mematikan pemanas dan instrumen secara selektif dilakukan untuk mencegah sistem otomatis wahana melakukan penghentian operasi total yang berisiko memutus jalur komunikasi komunikasi secara permanen.
Melalui langkah penghematan daya terbaru ini, NASA menargetkan Voyager 1 tetap dapat mengirimkan data teknis dan status kesehatan wahana hingga tahun 2030. Meskipun instrumen LECP dimatikan, wahana ini masih mengoperasikan sejumlah sensor lain untuk memetakan kepadatan plasma dan kekuatan medan magnet di luar batas heliosfer matahari.