San Francisco – OpenAI secara resmi meluncurkan GPT-5, model kecerdasan buatan terbaru yang diklaim memiliki kemampuan penalaran setara tingkat doktoral, pada Selasa (28/4). CEO OpenAI, Sam Altman, dalam presentasi di kantor pusat perusahaan menyatakan bahwa model ini mampu memproses informasi multimodal dengan akurasi 40 persen lebih tinggi dibandingkan versi GPT-4 sebelumnya.
Peluncuran ini dilakukan bersamaan dengan rilis laporan keuangan kuartal pertama tahun 2026 dari Microsoft dan Alphabet yang menunjukkan dominasi sektor AI. Microsoft mencatatkan pengeluaran modal sebesar 15,5 miliar dolar AS, yang sebagian besar dialokasikan untuk membangun pusat data AI baru di wilayah Amerika Utara dan Eropa guna mendukung beban kerja model generasi terbaru.
Di Washington D.C., Departemen Perdagangan Amerika Serikat merilis pembaruan kebijakan kontrol ekspor yang melarang pengiriman chip akselerator AI terbaru ke 22 negara tambahan. Menteri Perdagangan Gina Raimondo menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi keamanan nasional untuk memitigasi risiko pengembangan senjata otonom oleh aktor non-negara.
Menanggapi dinamika global tersebut, Kementerian Komunikasi dan Informatika Indonesia mempercepat pengesahan kerangka regulasi AI nasional pada akhir April ini. Wakil Menteri Kominfo, Nezar Patria, menyatakan di Jakarta bahwa aturan ini akan fokus pada kewajiban transparansi algoritma dan pelabelan konten buatan mesin bagi perusahaan teknologi yang beroperasi di wilayah kedaulatan Indonesia.
Para analis di Wall Street memprediksi bahwa integrasi GPT-5 ke dalam layanan produktivitas akan meningkatkan efisiensi kerja global hingga 30 persen pada akhir tahun 2026. Namun, para peneliti keamanan di Stanford Internet Observatory memperingatkan adanya potensi peningkatan deepfake yang lebih canggih yang sulit dideteksi oleh sistem keamanan siber konvensional saat ini.