OpenAI secara resmi meluncurkan model bahasa besar terbaru, GPT-5.5, pada Kamis (23/4/2026) yang diklaim memiliki kemampuan penalaran setara tingkat doktoral. Peluncuran ini diikuti dengan pengumuman amandemen kemitraan strategis antara OpenAI dan Microsoft pada Senin (27/4/2026) di San Francisco. Kesepakatan baru tersebut memberikan fleksibilitas bagi perusahaan pimpinan Sam Altman untuk menawarkan produknya di luar ekosistem Azure.
Dalam perjanjian yang diperbarui, Microsoft tetap menjadi mitra cloud utama namun lisensi terhadap kekayaan intelektual OpenAI kini berubah menjadi non-eksklusif hingga tahun 2032. Langkah ini diambil di tengah persiapan OpenAI untuk melakukan penawaran umum perdana (IPO) yang diprediksi akan menjadi salah satu yang terbesar di industri teknologi dunia. Perubahan struktur ini juga menghapus kewajiban pembagian pendapatan dari Microsoft kepada OpenAI di masa depan.
Di sisi lain, persaingan teknologi agen otonom atau Agentic AI semakin memanas dengan respons dari Google yang menyiapkan ajang I/O pada Mei mendatang. Google baru saja mengalokasikan dana sebesar 750 juta dolar AS untuk mendukung pengembangan ekosistem agen cerdas bagi 120.000 mitra globalnya. Di Indonesia, PT Telkom Indonesia turut meramaikan tren ini dengan meluncurkan platform Agentic AI by BigBox untuk mendorong otomasi industri nasional pada Selasa (28/4/2026).
Ketegangan di sektor ini juga diwarnai oleh proses hukum antara Elon Musk dan Sam Altman yang memasuki babak baru di pengadilan Amerika Serikat. Musk menggugat OpenAI senilai 134 miliar dolar AS atas tuduhan pengabaian misi nirlaba awal perusahaan demi kepentingan komersial murni. Persidangan ini diharapkan mengungkap dokumen internal terkait pengembangan kecerdasan umum buatan atau AGI yang selama ini bersifat rahasia.