Memasuki akhir April 2026, industri teknologi global mencatat pergeseran fundamental dari AI generatif menuju era Agentic AI yang mampu beroperasi secara otonom. Teknologi ini memungkinkan sistem kecerdasan buatan untuk mengeksekusi tugas kompleks secara mandiri tanpa memerlukan instruksi manusia di setiap tahapannya.

Gavin Barfield selaku VP & CTO Solution Salesforce ASEAN menyatakan bahwa Agentic AI bukan sekadar evolusi, melainkan revolusi dalam operasional perusahaan. Perusahaan raksasa seperti OpenAI dan Anthropic kini bersaing meluncurkan agen digital yang dapat menangani pemrograman hingga audit keamanan sistem secara otomatis.

Di tengah antusiasme tersebut, laporan Fortune pada 20 April 2026 mengungkap adanya tantangan besar terkait efektivitas penggunaan teknologi ini di dunia kerja. Survei terhadap 6.000 pemimpin perusahaan di Amerika Serikat dan Eropa menunjukkan bahwa rata-rata penggunaan AI masih terbatas pada 1,5 jam per minggu bagi sebagian besar eksekutif.

Analisis Financial Times terhadap indeks S&P 500 juga memperlihatkan bahwa peningkatan produktivitas yang diharapkan belum sepenuhnya terwujud secara merata di berbagai sektor. Meskipun terdapat pertumbuhan output sebesar 0,8 persen, banyak perusahaan masih berjuang mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja inti mereka akibat kendala kualitas data.

Fenomena ini mengingatkan pada paradoks produktivitas yang pernah terjadi pada era awal komputerisasi di tahun 1980-an. Para ahli ekonomi memprediksi bahwa dampak nyata dari Agentic AI baru akan terlihat secara signifikan dalam statistik ekonomi global dalam kurun waktu tiga hingga lima tahun mendatang.