Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa militer Israel akan memasuki Rafah untuk menghancurkan batalion Hamas yang tersisa. Pernyataan ini disampaikan pada Selasa (30/4) saat negosiasi gencatan senjata masih berlangsung di Kairo, Mesir. Netanyahu menyebutkan bahwa operasi militer tersebut akan tetap dilaksanakan terlepas dari tercapai atau tidaknya kesepakatan mengenai pembebasan sandera.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken mendesak Hamas untuk menerima proposal gencatan senjata terbaru yang disebutnya sebagai tawaran yang sangat murah hati. Dalam kunjungannya ke Tel Aviv pada Rabu (1/5), Blinken menekankan bahwa AS tetap menentang operasi militer besar-besaran di Rafah tanpa rencana perlindungan warga sipil yang kredibel. Saat ini, lebih dari 1,2 juta warga Palestina berlindung di kota tersebut setelah mengungsi dari wilayah utara Gaza.

Di sisi lain, kelompok Hamas dilaporkan sedang mempelajari draf usulan yang mencakup penghentian pertempuran selama 40 hari dan pertukaran sandera dengan tahanan Palestina. Pejabat senior Hamas, Sami Abu Zuhri, menyatakan bahwa ancaman Netanyahu bertujuan untuk menekan kelompok tersebut selama proses perundingan berlangsung. Pihak mediator dari Mesir dan Qatar terus berupaya menjembatani perbedaan antara kedua belah pihak guna mencegah eskalasi lebih lanjut di wilayah selatan.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa serangan militer ke Rafah akan menjadi eskalasi yang tak tertahankan dan berisiko menimbulkan bencana kemanusiaan yang lebih besar. PBB mencatat bahwa infrastruktur kesehatan di Gaza sudah hampir lumpuh total akibat konflik yang telah berlangsung selama tujuh bulan terakhir. Hingga awal Mei 2024, otoritas kesehatan di Gaza melaporkan jumlah korban tewas telah melampaui angka 34.000 jiwa.

Situasi di perbatasan Gaza-Mesir tetap tegang seiring dengan laporan penumpukan pasukan dan alat berat militer Israel di wilayah selatan. Sementara itu, tekanan internasional terhadap kebijakan perang Israel terus meningkat, termasuk gelombang protes besar-besaran di berbagai universitas di Amerika Serikat. Para demonstran menuntut penghentian segera bantuan militer ke Israel dan pemberlakuan gencatan senjata permanen di wilayah kantong tersebut.