Militer Rusia melancarkan serangan udara masif ke berbagai wilayah Ukraina pada Jumat, 1 Mei 2026, dengan mengerahkan sedikitnya 210 drone tempur. Presiden Volodymyr Zelenskyy mengonfirmasi bahwa sekitar 140 dari total unit tersebut merupakan drone 'Shaheed' buatan Iran yang secara spesifik menargetkan infrastruktur energi dan fasilitas sipil kritis.
Serangan ini menghantam tiga distrik di wilayah Dnipropetrovsk sebanyak 20 kali menggunakan kombinasi artileri dan pesawat tak berawak. Kepala Administrasi Militer Regional, Oleksandr Ganzha, melaporkan kerusakan parah di Kryvyi Rih yang menyebabkan satu orang terluka serta ribuan keluarga kehilangan akses listrik akibat hantaman pada gardu induk.
Di wilayah selatan, Gubernur Odesa Oleh Kiper menyatakan bahwa infrastruktur pelabuhan dan dua gedung apartemen tinggi mengalami kerusakan berat akibat serangan drone semalam. Zelenskyy mendesak para pemimpin Eropa untuk segera melakukan sinkronisasi sanksi guna melemahkan kemampuan logistik militer Rusia yang terus menekan garis depan Kharkiv dan Sumy.
Situasi global kian kompleks dengan meningkatnya tensi di Timur Tengah setelah Amerika Serikat menetapkan tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, membalas dengan ancaman serangan rudal terhadap pangkalan militer AS di seluruh kawasan, menyusul tewasnya Ali Khamenei dalam operasi udara gabungan sebelumnya.
Di benua Afrika, konflik saudara di Sudan yang memasuki tahun keempat kini memicu krisis kemanusiaan terbesar di dunia dengan pembagian wilayah antara militer (SAF) dan RSF. World Food Programme (WFP) memproyeksikan jumlah warga yang membutuhkan bantuan darurat akan melonjak hingga 33,7 juta jiwa pada pertengahan 2026 akibat kelaparan sistemik dan blokade bantuan.