Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Lloyd Austin, secara resmi mengonfirmasi keberadaan bukti bahwa tentara Korea Utara saat ini telah berada di wilayah Rusia. Laporan intelijen terbaru menunjukkan sedikitnya 3.000 personel militer Pyongyang telah dikirim ke pangkalan-pangkalan militer di Rusia timur sejak awal hingga pertengahan Oktober 2024.
Para tentara tersebut dilaporkan menempuh perjalanan melalui jalur laut dari wilayah Wonsan menuju Vladivostok sebelum disebar ke beberapa lokasi pelatihan militer. Pihak Gedung Putih menyatakan bahwa personel tersebut sedang menjalani pelatihan dasar dan adaptasi untuk kemungkinan dikerahkan ke garis depan medan tempur di wilayah Kursk.
Badan Intelijen Nasional Korea Selatan menginformasikan kepada parlemen di Seoul bahwa Pyongyang berencana mengirim total hingga 12.000 tentara, termasuk unit pasukan khusus dan jenderal senior. Langkah ini menandai keterlibatan militer asing secara langsung yang pertama dalam konflik antara Rusia dan Ukraina sejak invasi dimulai pada Februari 2022.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, memperingatkan bahwa keterlibatan Korea Utara merupakan langkah nyata menuju eskalasi perang global yang lebih luas. Ukraina mendesak sekutu Barat untuk memberikan respons tegas terhadap aliansi militer baru antara Moskow dan Pyongyang tersebut yang dianggap mengancam stabilitas kawasan Eropa dan Indo-Pasifik.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin tidak membantah keberadaan pasukan asing tersebut dan menegaskan bahwa implementasi perjanjian kemitraan strategis dengan Korea Utara adalah hak kedaulatan negaranya. Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menyebut perkembangan ini sebagai ekspansi berbahaya dari perang ilegal Rusia yang akan berdampak serius pada keamanan transatlantik.