Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi memperpanjang masa gencatan senjata dengan Iran pada Rabu (22/4/2026), hanya beberapa jam sebelum tenggat waktu berakhir. Langkah diplomasi ini diambil saat negosiasi nuklir yang dimediasi oleh Pakistan dan Oman masih menemui jalan buntu, sementara Teheran belum memberikan konfirmasi kehadiran pada putaran perundingan selanjutnya di Jenewa.

Meski gencatan senjata diberlakukan, Amerika Serikat tetap mempertahankan blokade militer total terhadap pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Konflik yang meletus sejak 28 Februari 2026 ini telah menewaskan lebih dari 6.000 personel militer Iran, termasuk laporan pembunuhan sejumlah pejabat tinggi, serta menyebabkan kerugian ekonomi langsung senilai 145 miliar dolar AS bagi Teheran.

Di wilayah Afrika, perang saudara di Sudan memasuki tahun keempat pada pertengahan April 2026 dengan eskalasi serangan drone yang menewaskan hampir 700 warga sipil dalam tiga bulan terakhir. Data Kementerian Kesehatan Sudan mencatat total 33.000 kematian sejak konflik pecah, sementara Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) melaporkan 14 juta orang kini kehilangan tempat tinggal.

Sementara itu, Rusia dan Ukraina melaksanakan pertukaran 193 tahanan perang dari masing-masing pihak pada Jumat (24/4/2026) sebagai salah satu bentuk kerja sama langka di tengah kebuntuan perundingan damai. Di medan tempur, militer Rusia dilaporkan meluncurkan lebih dari 400 drone jarak jauh setiap hari menggunakan taktik serangan berlapis untuk menembus pertahanan udara Ukraina di wilayah Kharkiv.

Ketegangan geopolitik yang meluas ini berdampak signifikan pada stabilitas ekonomi global, termasuk nilai tukar Rupiah yang menyentuh level Rp17.300 per dolar AS pada penutupan pekan ini. Lonjakan harga minyak dunia yang bertahan di atas US$100 per barel terus menekan inflasi domestik dan mengganggu rantai pasok energi internasional secara berkelanjutan.