Presiden Amerika Serikat Joe Biden resmi menandatangani paket bantuan luar negeri senilai 95 miliar dolar AS pada Rabu, 24 April 2024, di Gedung Putih. Langkah ini mengakhiri kebuntuan politik selama berbulan-bulan di Kongres yang sempat menghambat aliran dukungan militer bagi sekutu utama Washington. Dalam pidatonya, Biden menegaskan bahwa bantuan ini bertujuan untuk memperkuat keamanan global dan menjaga stabilitas di wilayah konflik.

Alokasi bantuan tersebut mencakup dana sebesar 61 miliar dolar AS untuk Ukraina yang tengah menghadapi tekanan militer Rusia di wilayah timur. Selain itu, sekitar 26 miliar dolar AS dialokasikan bagi Israel, termasuk dana bantuan kemanusiaan untuk warga sipil di Gaza sebesar 9 miliar dolar AS. Kawasan Indo-Pasifik, termasuk Taiwan, juga mendapatkan kucuran dana sebesar 8 miliar dolar AS untuk membendung pengaruh militer China di kawasan tersebut.

Bersamaan dengan pengesahan undang-undang tersebut, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken melakukan kunjungan diplomatik ke Shanghai dan Beijing, China. Blinken membawa pesan peringatan keras agar Beijing menghentikan pasokan komponen mesin dan teknologi ganda yang membantu pembangunan kembali industri pertahanan Rusia. AS mengancam akan menjatuhkan sanksi lebih berat jika China terus mendukung mesin perang Moskow di Ukraina.

Undang-undang baru ini juga memuat ketentuan krusial yang mewajibkan perusahaan teknologi China, ByteDance, untuk menjual kepemilikan TikTok dalam waktu sembilan bulan. Jika divestasi tidak dilakukan, aplikasi video pendek tersebut terancam dilarang beroperasi secara total di wilayah Amerika Serikat. Keputusan ini diambil atas dasar kekhawatiran keamanan nasional terkait akses data pengguna oleh pemerintah China.

Pentagon segera merespons pengesahan ini dengan mengumumkan pengiriman paket bantuan militer pertama senilai 1 miliar dolar AS ke Kyiv dalam hitungan jam. Paket tersebut mencakup amunisi pertahanan udara, peluru artileri, dan kendaraan lapis baja untuk menopang moral pasukan Ukraina. Presiden Volodymyr Zelenskyy menyambut baik langkah ini dan menyebutnya sebagai dukungan vital yang mampu mengubah arah pertempuran di garis depan.

Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyatakan keberatan keras terhadap paket bantuan militer untuk Taiwan yang dianggap melanggar kedaulatan mereka. Beijing memperingatkan bahwa tindakan AS dapat memicu ketegangan baru di Selat Taiwan dan merusak upaya stabilisasi hubungan bilateral yang sedang dibangun. Situasi geopolitik global pekan ini mencerminkan pergeseran kekuatan yang signifikan dengan AS kembali mempertegas peran kepemimpinannya di berbagai front konflik.