Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 24-25 April 2026 memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,50 persen. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa langkah ini merupakan kebijakan 'pre-emptive' dan 'forward-looking' untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1 persen pada 2026. Selain itu, suku bunga Deposit Facility naik menjadi 5,75 persen dan suku bunga Lending Facility menjadi 7,25 persen.
Keputusan moneter ini diambil sebagai respons atas meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global yang memicu pelemahan nilai tukar Rupiah hingga menembus angka Rp16.550 per dolar AS. Faktor utama tekanan berasal dari penundaan pemangkasan suku bunga acuan oleh Federal Reserve di Amerika Serikat akibat inflasi yang tetap tinggi. Kondisi ini menyebabkan aliran modal keluar dari pasar negara berkembang kembali menuju aset aman di Amerika Serikat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa surplus neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 mengalami penyusutan menjadi 2,1 miliar dolar AS. Penurunan ini dipengaruhi oleh koreksi harga komoditas unggulan seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) di pasar internasional. Meskipun demikian, BI tetap optimis pertumbuhan ekonomi domestik tahun 2026 akan berada dalam kisaran 4,7 persen hingga 5,5 persen didorong oleh konsumsi rumah tangga.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa pemerintah akan terus berkoordinasi dengan otoritas moneter untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Fokus utama pemerintah saat ini adalah mengelola dampak kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) yang kini mencapai level 7,1 persen. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diposisikan sebagai peredam kejut (shock absorber) terhadap fluktuasi harga energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia sempat terkoreksi ke level 7.150 poin merespons kenaikan suku bunga tersebut. Para investor cenderung melakukan aksi jual pada sektor perbankan dan properti yang sensitif terhadap perubahan bunga pinjaman. Analis pasar memperkirakan volatilitas akan tetap tinggi selama kuartal kedua tahun ini seiring dengan penyesuaian portofolio investor global.