Federal Reserve (The Fed) resmi mempertahankan suku bunga acuan Fed Funds Rate (FFR) pada kisaran 5,25 persen hingga 5,50 persen dalam pertemuan FOMC awal Mei 2024. Ketua The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers di Washington menyatakan bahwa kemajuan penurunan inflasi menuju target 2 persen masih tertahan dalam beberapa bulan terakhir. Kebijakan ini diambil untuk memastikan stabilitas harga di tengah kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang masih sangat kuat.

Di pasar domestik, nilai tukar Rupiah ditutup pada level Rp16.185 per dolar AS pada perdagangan Kamis sore setelah sempat menyentuh angka Rp16.200. Pergerakan ini terjadi setelah Bank Indonesia sebelumnya menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,25 persen untuk memperkuat stabilitas nilai tukar. Langkah proaktif tersebut diambil sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global dan risiko inflasi dari luar negeri.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan Indonesia pada April 2024 berada di level 3,00 persen (year-on-year), sedikit menurun dibandingkan Maret yang mencapai 3,05 persen. Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebutkan kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang inflasi terbesar. Meskipun demikian, angka ini masih berada dalam rentang sasaran pemerintah dan bank sentral sebesar 2,5 plus minus 1 persen.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami fluktuasi tajam dan ditutup melemah di level 7.117 pada akhir pekan ini. Investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp1,61 triliun di seluruh pasar seiring dengan sikap waspada terhadap prospek kebijakan moneter global. Sektor perbankan dan teknologi menjadi penekan utama indeks di tengah tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury yield.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan fluktuasi harga minyak mentah dunia yang bertahan di atas US$80 per barel turut menambah tekanan pada neraca perdagangan nasional. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan terus memantau dampak penguatan dolar AS terhadap beban subsidi energi dan pembayaran utang luar negeri. Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter diperketat guna menjaga daya beli masyarakat dan momentum pertumbuhan ekonomi nasional.