Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berakhir pada 22 April 2026. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi di tengah ketidakpastian global yang meningkat. Selain BI-Rate, suku bunga Deposit Facility juga tetap di angka 3,75 persen dan Lending Facility pada level 5,50 persen.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merespons keputusan tersebut dengan penutupan yang melemah tipis sebesar 0,24 persen ke level 7.541,61 pada perdagangan pekan ini. Meskipun indeks terkoreksi, volume perdagangan tercatat cukup tinggi mencapai 49,3 miliar lembar saham dengan nilai transaksi harian sebesar Rp18 triliun. Sektor perbankan menunjukkan pergerakan variatif, di mana saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) melonjak 6,39 persen ke harga Rp1.415.

Di sisi lain, antusiasme masyarakat terhadap pasar modal domestik terus menunjukkan tren positif hingga akhir April 2026. PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah investor telah menembus angka 26,12 juta Single Investor Identification (SID) per 24 April 2026. Angka ini mencerminkan pertumbuhan signifikan sebesar 28,37 persen secara tahunan (year-to-date) dibandingkan periode sebelumnya.

Penambahan investor baru rata-rata mencapai 50.645 SID per hari, yang didominasi oleh partisipasi investor ritel lokal. P.H Sekretaris Perusahaan BEI, Aulia Noviana, menegaskan bahwa tingginya minat investasi ini dibarengi dengan penguatan pengawasan terhadap emiten. Hingga akhir Maret 2026, bursa telah menjatuhkan 845 sanksi kepada 494 perusahaan tercatat guna menjaga integritas perdagangan yang teratur dan efisien.

Fokus kebijakan moneter ke depan tetap diarahkan pada mitigasi dampak konflik di Timur Tengah yang terus menekan nilai tukar mata uang regional. BI berkomitmen menjaga inflasi pada sasaran 2,5 plus minus 1 persen untuk sisa tahun 2026 hingga 2027. Sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal diharapkan mampu menopang daya beli masyarakat di tengah fluktuasi harga komoditas energi global.