Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 6,25 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 21-22 Mei 2024 di Jakarta. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa keputusan ini konsisten dengan kebijakan moneter pro-stability untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen. Langkah tersebut juga bertujuan memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya ketidakpastian pasar global.
Nilai tukar rupiah terpantau bergerak di kisaran Rp15.900 hingga Rp16.050 per dolar AS dalam sepekan terakhir menurut data Bloomberg. Tekanan terhadap mata uang Garuda meningkat setelah risalah pertemuan Federal Reserve (The Fed) menunjukkan sikap hawkish para pejabat bank sentral Amerika Serikat. Sebagian besar pembuat kebijakan masih meragukan penurunan inflasi menuju target 2 persen, sehingga suku bunga AS berpotensi bertahan lama di level 5,25-5,50 persen.
Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual oleh investor asing dengan posisi penutupan di level 7.222 pada akhir pekan ini. Data Bursa Efek Indonesia mencatatkan aksi jual bersih (net foreign sell) mencapai Rp518,87 miliar di seluruh pasar dalam satu hari perdagangan terakhir. Sentimen negatif global dan fluktuasi harga komoditas energi menjadi pendorong utama pelemahan indeks domestik di tengah sikap wait and see para pelaku pasar.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa fundamental ekonomi nasional tetap terjaga dengan pertumbuhan kuartal I-2024 sebesar 5,11 persen secara tahunan. Pemerintah terus mewaspadai risiko transmisi kebijakan moneter global terhadap sektor riil dan beban pembiayaan utang negara. Saat ini, fokus Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diarahkan untuk menjadi peredam kejut (shock absorber) di tengah volatilitas pasar keuangan yang masih tinggi.