Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate pada level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode April 2026. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa keputusan ini merupakan langkah ketujuh berturut-turut guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian geopolitik global dan tekanan inflasi. Selain BI-Rate, suku bunga Deposit Facility tetap di level 3,75 persen dan Lending Facility pada 5,50 persen.
Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,32 persen atau turun 22,97 poin ke level 7.106,52 pada perdagangan Senin, 27 April 2026. Penurunan indeks ini dipicu oleh aksi jual investor yang merespons pengumuman perombakan atau reshuffle Kabinet Merah Putih oleh Presiden Prabowo Subianto di Jakarta. Nilai transaksi harian tercatat cukup tinggi mencapai Rp16,57 triliun dengan volume perdagangan 33,17 miliar saham.
Sentimen negatif juga datang dari proses rebalancing indeks IDX30, LQ45, dan IDX80 yang mulai menerapkan kriteria baru terkait konsentrasi kepemilikan saham tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC). Kebijakan ini mengakibatkan saham berkapitalisasi besar seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) keluar dari indeks utama. Kondisi tersebut memicu volatilitas tinggi karena investor institusi melakukan penyesuaian portofolio secara masif.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tetap kuat di angka 5,5 persen meski dibayangi gejolak global. Nilai tukar Rupiah terpantau bergerak fluktuatif di kisaran Rp16.897 hingga Rp17.205 per dolar AS, namun pemerintah menegaskan fondasi ekonomi domestik masih lebih tangguh dibandingkan negara tetangga. Cadangan devisa Indonesia per akhir Maret 2026 juga dilaporkan tetap stabil pada posisi 148,2 miliar dolar AS.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa MSCI telah memberikan pengakuan positif terhadap reformasi integritas pasar modal Indonesia. Hingga 24 April 2026, jumlah investor pasar modal domestik melonjak signifikan hingga menembus 26,12 juta orang. Menariknya, lebih dari 54 persen dari total investor tersebut merupakan generasi muda berusia di bawah 30 tahun yang mendominasi transaksi di bursa.