Presiden Amerika Serikat Joe Biden resmi menandatangani paket bantuan keamanan senilai 95 miliar dolar AS pada Rabu, 24 April 2024. Dari total tersebut, sebanyak 61 miliar dolar AS dialokasikan khusus untuk Ukraina guna mengakhiri kebuntuan politik di Kongres selama berbulan-bulan. Biden menegaskan bahwa pengiriman pasokan militer akan segera dimulai dalam hitungan jam untuk membantu Kyiv mempertahankan kedaulatannya.

Departemen Pertahanan AS langsung mengumumkan paket pengiriman tahap pertama senilai 1 miliar dolar AS yang mencakup pencegat pertahanan udara, peluru artileri, dan kendaraan lapis baja. Pejabat Amerika Serikat juga mengonfirmasi bahwa rudal jarak jauh ATACMS telah dikirimkan secara rahasia dan mulai digunakan oleh pasukan Ukraina. Kehadiran senjata ini diharapkan mampu mengincar pusat logistik Rusia yang berada jauh di belakang garis depan.

Kondisi di medan tempur saat ini menunjukkan pasukan Ukraina tengah berada di bawah tekanan besar, terutama di kota strategis Chasiv Yar, wilayah Donbas. Kurangnya amunisi selama periode jeda bantuan telah dimanfaatkan militer Rusia untuk merebut beberapa desa, termasuk Bohdanivka. Analis militer memperkirakan bantuan baru ini akan membantu menstabilkan garis depan sebelum potensi serangan besar Rusia pada bulan Mei mendatang.

Kremlin memberikan respons keras dengan menyebut bantuan tersebut sebagai bentuk keterlibatan langsung Washington dalam perang hibrida. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, memperingatkan bahwa tambahan senjata dari Barat hanya akan memperpanjang konflik dan menyebabkan lebih banyak kematian bagi warga Ukraina. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov juga menegaskan bahwa militer Rusia akan meningkatkan intensitas serangan terhadap pusat penyimpanan senjata Barat.

Selain untuk Ukraina, paket undang-undang ini juga mencakup dana sebesar 26 miliar dolar AS untuk Israel dan bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza. Sebanyak 8 miliar dolar AS lainnya dialokasikan untuk memperkuat pertahanan mitra AS di kawasan Indo-Pasifik guna membendung pengaruh militer China. Langkah diplomatik ini menandai upaya signifikan Amerika Serikat dalam merespons berbagai krisis keamanan global secara simultan.