Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan telah menginstruksikan jajaran staf kepresidenan untuk menyiapkan skenario blokade berkepanjangan terhadap seluruh pelabuhan dan ekspor minyak Iran. Langkah ini diambil setelah Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal perdamaian terbaru dari Teheran yang diajukan melalui mediasi Pakistan pada akhir April 2026. Strategi blokade ini dirancang untuk melumpuhkan ekonomi Iran tanpa harus memperluas operasi militer darat yang kini mulai membebani popularitas domestik Trump menjelang pemilu paruh waktu.

Di medan tempur regional, militer Israel (IDF) terus mengintensifkan serangan udara dan operasi darat di wilayah Lebanon Selatan hingga pinggiran Beirut. Meskipun terdapat kesepakatan jeda antara AS dan Iran, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam zona gencatan senjata tersebut. Laporan dari otoritas kesehatan Lebanon menyebutkan lebih dari 350 orang tewas dalam sepekan terakhir, dengan sedikitnya 150 warga sipil menjadi korban di wilayah utara Sungai Litani.

Dampak ekonomi global dari eskalasi ini telah mencapai titik kritis menurut data terbaru dari Dana Moneter Internasional (IMF). Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, mengungkapkan bahwa distribusi minyak global menyusut sebesar 13 persen, sementara pasokan gas alam cair (LNG) anjlok 20 persen akibat gangguan di Selat Hormuz. Kondisi ini memicu lonjakan inflasi energi di berbagai negara importir dan memaksa Uni Eropa untuk mempertimbangkan langkah-langkah darurat guna mengamankan stok bahan bakar nasional.

Sementara perhatian dunia tertuju pada Timur Tengah, perang saudara di Sudan resmi memasuki tahun keempat dengan eskalasi yang semakin brutal. Pada Selasa, 28 April 2026, serangan drone dilaporkan menghantam kota Rabak di Sudan bagian selatan yang menewaskan sedikitnya 11 orang dan menghancurkan fasilitas medis setempat. Konflik antara Sudanese Armed Forces (SAF) dan Rapid Support Forces (RSF) ini tercatat telah menyebabkan lebih dari 150.000 kematian dan memicu krisis pengungsian terbesar di dunia saat ini.

Tekanan diplomatik terhadap Washington meningkat tajam setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz melontarkan kritik pedas terkait ketidakjelasan strategi keluar AS dari konflik Iran. Merz menilai keterlibatan militer AS di Timur Tengah telah memperburuk volatilitas pasar keuangan global dan memperlemah posisi ekonomi Eropa secara signifikan. Menanggapi hal tersebut, Gedung Putih tetap bersikeras bahwa kebijakan tekanan maksimum adalah satu-satunya cara untuk memastikan Iran tidak melanjutkan program pengembangan senjata nuklirnya.