Diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran menemui jalan buntu setelah delapan minggu perang berkecamuk di kawasan Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, tiba di Rusia pada Senin (27/4) untuk melakukan koordinasi tingkat tinggi menyusul kampanye militer gabungan AS-Israel yang menargetkan infrastruktur strategis Teheran.
Gedung Putih menyatakan bahwa blokade ekonomi dan militer saat ini efektif dalam menekan ekspor minyak Iran, namun Teheran tetap menolak negosiasi selama ancaman militer masih berlangsung. Krisis ini telah memicu lonjakan biaya impor energi di Uni Eropa hingga lebih dari 25 miliar euro, sebagaimana dikonfirmasi oleh Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.
Di kawasan Asia-Pasifik, Amerika Serikat mengerahkan sedikitnya 10.000 personel militer ke wilayah Filipina untuk latihan tempur Balikatan yang dimulai pada akhir April 2026. Latihan skala besar ini melibatkan total 17.000 personel gabungan, termasuk pasukan dari Jepang, Prancis, dan Kanada, yang difokuskan pada skenario pertahanan di perairan Laut China Selatan.
Letnan Jenderal Marinir Christian Wortman menegaskan bahwa fokus Washington terhadap Indo-Pasifik tetap tidak tergoyahkan meski perhatian global tersedot oleh konflik di Timur Tengah. Dalam salah satu simulasi, pasukan Jepang dilaporkan melakukan uji coba penembakan rudal dari pesisir Ilocos Norte untuk menargetkan kapal musuh tiruan di wilayah sengketa.
Sementara itu, konflik di Eropa Timur masih menunjukkan intensitas tinggi dengan serangan udara Rusia yang terus menyasar wilayah Kharkiv, Ukraina. Laporan terbaru dari otoritas setempat menyebutkan serangan drone Rusia di Bohodukhiv menewaskan sedikitnya empat warga sipil, termasuk tiga anak-anak, di tengah suhu ekstrem dan krisis listrik nasional.