Militer Israel melancarkan serangan udara ke tiga rumah di wilayah Rafah pada Senin (29/4) yang menewaskan sedikitnya 20 warga Palestina. Serangan mematikan ini terjadi hanya beberapa jam sebelum delegasi Hamas mendarat di Kairo untuk bertemu mediator Mesir dan Qatar guna membahas kelanjutan negosiasi damai.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken, mendesak pimpinan Hamas untuk segera menerima proposal gencatan senjata yang ia sebut sebagai tawaran 'luar biasa murah hati'. Kesepakatan tersebut dilaporkan mencakup jeda pertempuran selama 40 hari dan pertukaran sandera Israel dengan ratusan tahanan Palestina yang berada di penjara-penjara Israel.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tetap berada di bawah tekanan politik domestik yang besar dari faksi sayap kanan untuk tetap melanjutkan invasi darat ke Rafah. Para pejabat keamanan Israel menegaskan bahwa operasi militer skala penuh tetap menjadi agenda utama jika kelompok militan tersebut menolak poin-poin dalam draf kesepakatan terbaru.

Kondisi kemanusiaan di Rafah saat ini berada pada titik nadir dengan lebih dari 1,4 juta warga sipil yang berdesakan di tenda-tenda pengungsian tanpa akses sanitasi memadai. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa serangan darat ke wilayah perbatasan tersebut akan memutus jalur utama bantuan logistik dan memicu bencana kelaparan massal.

Di belahan dunia lain, ketegangan global terus meningkat seiring laporan SIPRI yang mencatat belanja militer dunia mencapai rekor tertinggi sebesar 2,44 triliun dolar AS. Eskalasi ini didorong oleh konflik berkepanjangan di Gaza serta kemajuan pasukan Rusia di wilayah timur Ukraina yang memanfaatkan keterlambatan pasokan amunisi dari negara-negara Barat.