Konflik di Selat Hormuz mencapai titik kritis setelah otoritas maritim melaporkan penahanan tiga kapal tanker minyak dalam kurun waktu 48 jam terakhir. Langkah ini memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi di salah satu jalur perdagangan laut tersibuk di dunia tersebut.

Harga minyak mentah jenis Brent melonjak 8,5 persen menjadi 112,40 dolar AS per barel pada penutupan perdagangan Selasa sore. Analis pasar dari Goldman Sachs memperingatkan bahwa gangguan navigasi yang berkelanjutan dapat mendorong inflasi global melampaui target bank sentral di berbagai negara maju.

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyerukan penghentian segera segala bentuk provokasi militer di wilayah perairan internasional tersebut. Dalam pernyataan resminya di New York, Guterres menekankan bahwa ekonomi dunia tidak mampu menanggung krisis energi baru di tengah proses pemulihan yang masih rapuh.

Amerika Serikat dan sekutu NATO dilaporkan telah menyiagakan armada laut tambahan di Laut Arab untuk memastikan keamanan navigasi kapal komersial. Sementara itu, pihak kementerian luar negeri di Teheran menyatakan bahwa tindakan pengamanan laut tersebut merupakan respons terhadap pelanggaran kedaulatan wilayah perairan mereka.

Dampak ekonomi mulai terasa signifikan di kawasan Asia, termasuk Indonesia, di mana nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS akibat sentimen ketidakpastian pasar. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM mulai mengkaji ulang skema subsidi energi untuk mengantisipasi pembengkakan beban APBN akibat lonjakan harga komoditas global.