Harapan untuk terobosan diplomatik dalam konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran semakin suram pada Minggu, 26 April 2026. Presiden Donald Trump secara resmi membatalkan rencana pengiriman utusan khusus, Jared Kushner dan Steve Witkoff, ke Islamabad untuk perundingan mediasi. Melalui pernyataan resminya, Trump menegaskan bahwa Washington menolak proposal perdamaian terbaru dari Teheran karena dinilai tidak memadai.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, merespons dengan meninggalkan Pakistan menuju Oman setelah memaparkan kerangka kerja pengakhiran perang. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan kepada Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bahwa negaranya tidak akan memasuki negosiasi di bawah ancaman atau blokade maritim. Teheran menuntut pencabutan sanksi internasional dan pembukaan blokir aset senilai US$20 miliar sebagai syarat utama dimulainya dialog resmi.
Di sektor energi, penutupan sebagian Selat Hormuz oleh Iran dan blokade pelabuhan oleh militer Amerika Serikat telah memicu guncangan pasokan minyak global. Badan Energi Internasional mencatat gangguan ini menghambat sekitar 20 persen aliran minyak dunia, yang mengakibatkan harga energi mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mengungkapkan biaya impor bahan bakar fosil Uni Eropa melonjak hingga 25 miliar euro atau setara Rp505 triliun.
Situasi keamanan di Lebanon turut memburuk seiring dengan goyahnya gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah yang baru berjalan tiga minggu. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah memerintahkan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) untuk menyerang target militan secara keras sebagai respons atas eskalasi di wilayah utara. Konflik yang meluas ini terus memperburuk inflasi global dan menekan stabilitas kawasan sejak serangan militer besar dimulai pada 28 Februari lalu.