Delegasi Hamas telah meninggalkan Kairo setelah melakukan pembicaraan mendalam mengenai proposal gencatan senjata terbaru yang diajukan oleh mediator Mesir dan Qatar. Kelompok tersebut saat ini sedang meninjau draf yang mencakup penghentian pertempuran selama 40 hari dan pertukaran sandera Israel dengan ratusan tahanan Palestina. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken, menyebut tawaran tersebut sangat murah hati dan mendesak Hamas untuk segera menerimanya.

Proposal tersebut dilaporkan mencakup pembebasan 33 sandera Israel yang terdiri dari wanita, lansia, dan mereka yang terluka pada fase pertama. Sebagai imbalannya, Israel diharapkan menarik pasukan dari koridor utama yang membelah Gaza untuk memungkinkan warga sipil kembali ke wilayah utara. Namun, poin krusial mengenai tuntutan Hamas untuk penghentian perang secara permanen masih menjadi hambatan utama dalam mencapai kesepakatan final.

Di tengah proses diplomasi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer ke Rafah akan tetap dilakukan dengan atau tanpa kesepakatan gencatan senjata. Rafah saat ini menjadi tempat perlindungan bagi lebih dari 1,5 juta warga Palestina yang melarikan diri dari zona tempur di wilayah utara dan tengah. Netanyahu menyatakan bahwa penghancuran batalion Hamas di wilayah selatan tersebut adalah kunci untuk mencapai kemenangan total.

Sementara itu, kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza terus memburuk dengan jumlah korban jiwa yang kini melampaui 34.500 orang menurut laporan Kementerian Kesehatan setempat. Antony Blinken dalam kunjungannya ke Amman menekankan pentingnya peningkatan aliran bantuan kemanusiaan secara signifikan melalui jalur darat. Amerika Serikat juga terus mendorong pembukaan gerbang perbatasan tambahan guna mencegah ancaman kelaparan yang semakin nyata.

Tekanan internasional terhadap Israel juga meningkat seiring dengan laporan kemungkinan dikeluarkannya surat perintah penangkapan oleh Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) terhadap sejumlah pejabat tinggi. Di sisi lain, pertempuran di perbatasan utara dengan Hizbullah Lebanon juga terus memanas dan menambah kompleksitas konflik regional. Para mediator berharap kesepakatan di Gaza dapat meredam ketegangan di berbagai front Timur Tengah lainnya.