Krisis energi global mencapai titik kritis pada Jumat (24/4/2026) menyusul blokade Selat Hormuz oleh Iran yang telah berlangsung sejak Maret lalu. Harga minyak mentah Brent melonjak hingga kisaran US$ 110 per barel, memicu inflasi global dan memaksa IMF merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia. Jalur laut yang mengangkut 27 persen perdagangan minyak maritim dunia tersebut kini menjadi pusat ketegangan militer antara Teheran dan Washington.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan menunda serangan udara terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari melalui operasi berkode Epic Fury. Penundaan ini dilakukan guna memberi ruang bagi upaya diplomatik yang difasilitasi oleh utusan khusus ke Pakistan untuk merundingkan pembukaan kembali jalur pelayaran. Meski demikian, Pentagon tetap menyiagakan armada tempur di sekitar kawasan Teluk guna mengantisipasi kegagalan negosiasi.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis dengan mengamankan pasokan 150 juta barel minyak dari Rusia. Utusan Khusus Presiden, Hashim Djojohadikusumo, mengonfirmasi bahwa kesepakatan harga khusus ini merupakan hasil pertemuan langsung Presiden Prabowo Subianto dengan Vladimir Putin di Moskow. Langkah ini diambil untuk memperkuat cadangan energi nasional dan meredam dampak lonjakan harga energi domestik.
Pasar keuangan domestik merespons negatif dengan jatuhnya Indeks Harga Saham Gabungan sebesar 3,38 persen ke level 7.129 pada penutupan perdagangan Jumat. Analis komoditas Wahyu Laksono mencatat harga emas spot merosot 3,3 persen menjadi US$ 4.675 per ons troi karena investor lebih memilih dolar AS sebagai aset lindung nilai utama. Penguatan indeks dolar ke posisi 99 mencerminkan ekspektasi suku bunga tinggi yang berkepanjangan akibat tekanan inflasi energi.
Dinamika geopolitik ini juga memaksa penundaan pertemuan puncak antara Presiden Trump dan Presiden China Xi Jinping yang semula dijadwalkan pada akhir April 2026. Di sektor teknologi militer, Taiwan melaporkan lonjakan ekspor pesawat nirawak ke Eropa yang mencapai 136.010 unit pada kuartal pertama tahun ini. Perkembangan tersebut menunjukkan pergeseran peta kekuatan global di tengah meningkatnya permintaan alat pertahanan akibat konflik yang terus meluas.