Serangan udara terkoordinasi yang menyasar infrastruktur energi di kawasan Teluk pada Kamis malam telah memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global secara masif. Harga minyak mentah jenis Brent melonjak hingga 4,5 persen ke angka 108 dolar AS per barel, yang merupakan level tertinggi sejak awal tahun 2026. Data dari bursa komoditas menunjukkan volatilitas pasar meningkat tajam sesaat setelah ledakan dilaporkan di dua lokasi kilang minyak utama.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken, dalam konferensi pers resmi di Washington menyatakan bahwa tindakan sabotase tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap stabilitas keamanan internasional. Pihak Gedung Putih mengonfirmasi bahwa koordinasi dengan sekutu G7 sedang dilakukan untuk menentukan langkah balasan diplomatik maupun ekonomi. Di sisi lain, pihak Teheran membantah keterlibatan langsung namun memperingatkan bahwa setiap agresi balasan akan dihadapi dengan kekuatan militer yang lebih besar di kawasan tersebut.

Di Markas Besar PBB, New York, Sekretaris Jenderal António Guterres menyerukan semua pihak untuk menahan diri guna menghindari eskalasi perang regional yang lebih luas. Utusan dari China dan Rusia mendesak dilakukannya penyelidikan independen terhadap asal-usul serangan drone yang melumpuhkan jalur distribusi energi tersebut. Dewan Keamanan dijadwalkan melakukan pertemuan darurat pada Jumat sore waktu setempat untuk membahas draf resolusi de-eskalasi.

Dampak ekonomi mulai dirasakan secara langsung di pasar saham Asia dan Eropa, di mana indeks saham utama mengalami koreksi tajam akibat ketidakpastian geopolitik. Analis senior dari Goldman Sachs memprediksi inflasi global dapat kembali meningkat jika blokade di Selat Hormuz benar-benar terjadi dalam 72 jam ke depan. Investor mulai mengalihkan aset mereka ke komoditas aman seperti emas yang harganya turut terkerek naik sebesar 2,1 persen.

Negara-negara anggota NATO dilaporkan telah memulai koordinasi darurat untuk memperkuat kehadiran militer di wilayah Mediterania Timur dan Laut Merah. Langkah ini diambil sebagai respons atas pergerakan armada laut asing yang dianggap mengancam jalur perdagangan internasional yang vital bagi logistik global. Hingga saat ini, situasi di perbatasan masih dilaporkan dalam status siaga tinggi dengan peningkatan patroli udara di sepanjang zona penyangga.