Departemen Pertahanan Amerika Serikat resmi mengerahkan gugus tugas angkatan laut tambahan ke wilayah Laut Merah menyusul serangkaian serangan terhadap kapal komersial di Selat Bab al-Mandab. Pentagon mengonfirmasi pengerahan kapal induk USS Dwight D. Eisenhower untuk memperkuat keamanan navigasi internasional di jalur vital tersebut. Langkah militer ini diambil setelah volume perdagangan global melalui Terusan Suez dilaporkan merosot hingga 42 persen dalam dua kuartal terakhir akibat ancaman keamanan.

Uni Eropa melalui misi Operasi Aspides turut menambah dua kapal fregat dari Prancis dan Italia untuk melindungi kapal kargo yang menuju pelabuhan-pelabuhan utama di Eropa. Juru bicara kebijakan luar negeri Uni Eropa menyatakan bahwa gangguan di jalur ini telah memicu kenaikan biaya logistik hingga 150 persen bagi eksportir dari wilayah Asia. Situasi tersebut memaksa perusahaan pelayaran raksasa seperti Maersk dan MSC mengalihkan rute melewati Tanjung Harapan di Afrika Selatan yang menambah waktu tempuh hingga 14 hari.

Pemerintah Iran di Teheran memperingatkan bahwa peningkatan kehadiran militer Barat di perairan tersebut berisiko memperkeruh stabilitas regional secara permanen. Menteri Luar Negeri Iran menegaskan dalam konferensi pers bahwa keamanan maritim seharusnya dikelola oleh negara-negara pesisir tanpa campur tangan kekuatan eksternal dari luar kawasan. Sementara itu, harga minyak mentah jenis Brent di pasar London merangkak naik ke level 92 dolar AS per barel akibat kekhawatiran pasar atas potensi gangguan pasokan jangka panjang.

Dewan Keamanan PBB menjadwalkan sidang darurat di New York untuk membahas draf resolusi perlindungan jalur air internasional yang diajukan oleh Inggris dan Jepang. Utusan tetap Tiongkok untuk PBB menyerukan semua pihak untuk menahan diri guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah. Analis energi dari Goldman Sachs memprediksi inflasi global dapat kembali melonjak jika gangguan navigasi di titik transit utama ini berlanjut hingga akhir semester kedua tahun ini.