Amerika Serikat, Jepang, dan Filipina secara resmi memulai latihan militer tahunan berskala besar bertajuk 'Balikatan' di perairan dekat Taiwan dan Laut China Selatan pada Senin, 20 April 2026. Untuk pertama kalinya, pasukan Jepang bergabung dalam skala penuh bersama ribuan tentara AS dan Filipina guna memperkuat interoperabilitas pertahanan di kawasan Indo-Pasifik yang kian memanas.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, merespons tegas manuver tersebut dengan menyebutnya sebagai bentuk intimidasi militer yang sengaja memicu ketidakstabilan regional. Beijing memperingatkan bahwa pengerahan alutsista canggih di dekat wilayah kedaulatannya hanya akan meningkatkan risiko konfrontasi langsung antara kekuatan besar di Selat Taiwan.
Ketegangan ini memuncak setelah pemerintahan Presiden Donald Trump menyetujui paket penjualan senjata senilai 11 miliar dolar AS untuk memperkuat pertahanan Taiwan awal tahun ini. Meski demikian, Trump dijadwalkan melakukan kunjungan diplomatik ke Beijing pada 14-15 Mei mendatang untuk bertemu Presiden Xi Jinping dalam upaya meredakan perang tarif dan ketegangan militer yang berlarut-larut.
Di tengah unjuk kekuatan militer tersebut, sebuah jajak pendapat terbaru dari Yayasan Demokrasi di Taipei mengungkapkan penurunan kepercayaan publik terhadap komitmen keamanan Amerika Serikat. Sebanyak 57 persen responden menyatakan skeptis bahwa Washington akan mengirimkan pasukan tempur secara langsung apabila terjadi invasi fisik dari China daratan ke pulau tersebut.
Analis keamanan mencatat bahwa latihan Balikatan 2026 mencakup simulasi pertahanan pulau dan keamanan jalur maritim di titik-titik krusial yang menjadi urat nadi perdagangan dunia. Kondisi geopolitik saat ini menempatkan kawasan Asia Tenggara dalam posisi waspada tinggi seiring dengan meningkatnya aktivitas patroli tempur dari kedua belah pihak di sepanjang garis batas sensitif.