Situasi keamanan di perbatasan Lebanon Selatan mencapai titik kritis setelah gelombang serangan udara intensif terjadi selama 48 jam terakhir. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengeluarkan peringatan keras dari New York pada Rabu (29/4) malam, menyatakan bahwa kawasan tersebut berada di ambang konflik skala penuh yang tidak terkendali.
Data dari otoritas kesehatan setempat mencatat sedikitnya 120 korban jiwa dalam dua hari terakhir, sementara pemerintah Israel melaporkan evakuasi tambahan terhadap 15.000 warga dari wilayah utara. Perdana Menteri Lebanon, Najib Mikati, mendesak komunitas internasional untuk segera melakukan intervensi diplomatik guna mencegah kehancuran infrastruktur sipil yang lebih luas.
Juru bicara militer Israel, Laksamana Muda Daniel Hagari, menegaskan bahwa operasi udara tersebut merupakan respons atas peluncuran lebih dari 200 proyektil ke wilayah Galilea. Di Washington, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken dilaporkan tengah mengupayakan koridor komunikasi darurat untuk meredam ketegangan agar tidak meluas ke negara tetangga.
Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar sidang darurat di New York pada Kamis (30/4) sore waktu setempat guna membahas draf resolusi gencatan senjata terbaru. Para diplomat di Markas Besar PBB menyatakan bahwa konsensus global sangat diperlukan untuk mencegah gangguan stabilitas ekonomi dan keamanan di jalur perdagangan energi regional.