Situasi geopolitik di Timur Tengah mencapai titik kritis pada pekan terakhir April 2026 setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan untuk memperpanjang masa gencatan senjata dengan Iran selama dua minggu. Namun, Washington menegaskan bahwa blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Iran akan tetap diberlakukan hingga Teheran memberikan respons resmi terhadap tuntutan navigasi internasional. Langkah ini memicu reaksi keras dari Beijing yang mengkhawatirkan stabilitas pasokan energi dunia.
Presiden China Xi Jinping dalam pernyataan resminya mendesak semua pihak untuk menahan diri dan mengajukan proposal perdamaian guna memastikan Selat Hormuz tetap terbuka bagi jalur pelayaran komersial. China, sebagai mitra dagang utama di kawasan tersebut, mulai merasakan tekanan akibat gangguan logistik yang mengancam ketahanan energi nasional mereka. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menekankan bahwa prioritas utama saat ini adalah mencegah kembalinya permusuhan bersenjata secara terbuka.
Di sisi lain, ketegangan di perbatasan Lebanon juga memanas meskipun gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah telah diperpanjang menjadi tiga minggu. Militer Israel melaporkan satu tentaranya tewas dalam pertempuran di Lebanon selatan, yang memicu aksi saling tuduh atas pelanggaran kesepakatan damai. Kondisi ini memperumit upaya diplomatik yang sedang diupayakan oleh mediator internasional untuk menstabilkan kawasan Mediterania Timur.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dilaporkan telah tiba di Saint Petersburg untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin guna membahas koordinasi strategis menghadapi tekanan Barat. Pertemuan ini berlangsung di tengah ancaman Presiden Trump yang memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menindak tegas kapal-kapal Iran yang terdeteksi melakukan operasi penambangan di Selat Hormuz. Eskalasi ini telah mendorong harga minyak mentah Brent berfluktuasi tajam di pasar global.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, memperingatkan bahwa gangguan pasokan minyak dan gas pada bulan April ini akan menjadi yang terberat bagi ekonomi global. Analisis IMF menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak sebesar 10 persen dalam jangka panjang berpotensi meningkatkan inflasi global hingga 40 basis poin. Sementara itu, di front Eropa Timur, serangan drone Rusia di Odesa terus berlanjut, menambah beban ketidakpastian keamanan internasional yang kian kompleks.