Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon yang baru saja diperpanjang selama tiga minggu menghadapi ancaman serius setelah serangkaian serangan udara kembali pecah. Pada Jumat (24/4), otoritas Lebanon melaporkan sedikitnya enam orang tewas akibat hantaman proyektil militer Israel di empat lokasi berbeda, termasuk kota Bint Jbeil.

Militer Israel menyatakan bahwa operasi tersebut menargetkan anggota kelompok Hezbollah yang dianggap memberikan ancaman langsung di wilayah perbatasan. Pihak Israel mengklaim tindakan ini merupakan respons defensif terhadap pergerakan milisi yang mendekati posisi pasukan mereka di zona penyangga Lebanon Selatan.

Di sisi lain, Hezbollah melaporkan telah melakukan empat operasi balasan menggunakan roket ke arah posisi militer Israel sebagai bentuk protes atas pelanggaran kedaulatan. Eskalasi ini terjadi hanya sehari setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan perpanjangan gencatan senjata melalui mediasi intensif di Gedung Putih.

Sementara itu, Iran mulai menunjukkan tanda-tanda pelonggaran ketegangan dengan membuka kembali penerbangan komersial dari Bandara Internasional Imam Khomeini di Teheran pada Sabtu (25/4). Langkah ini diambil seiring dengan kehadiran utusan khusus AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, di Islamabad untuk merundingkan stabilitas jangka panjang melalui mediator Pakistan.

Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, dalam kunjungannya ke Inggris memperingatkan bahwa ketidakstabilan di Timur Tengah kini telah bertransformasi menjadi ancaman langsung bagi keamanan global. Ia menyerukan respons kolektif internasional untuk mencegah konflik asimetris yang melibatkan ribuan rudal dan drone tersebut meluas ke wilayah lain.