Pemerintah Amerika Serikat melalui Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengumumkan perluasan operasi blokade maritim terhadap Iran menjadi kampanye penegakan global di Samudra Hindia dan Pasifik. Langkah strategis ini bertujuan untuk menginterdisi seluruh kapal yang terafiliasi dengan perdagangan Teheran guna memutus jalur ekonomi negara tersebut di tengah konflik yang masih berkecamuk. Reuters melaporkan bahwa militer AS kini bersiap mencegat kapal dari negara mana pun yang terdeteksi menuju atau meninggalkan pelabuhan Iran.
Kondisi di Selat Hormuz dilaporkan lumpuh secara komersial dengan hanya lima kapal yang melintas dalam periode 24 jam terakhir, berbanding jauh dari rata-rata normal sebanyak 140 kapal per hari. Meskipun secara hukum jalur tersebut dinyatakan terbuka, tingginya risiko keamanan dan penolakan perusahaan asuransi maritim membuat aktivitas pengiriman minyak mentah dunia terhenti total. Para analis memperingatkan bahwa normalisasi maritim kini bergantung pada kepercayaan pemilik kapal, bukan sekadar deklarasi politik.
Ketegangan antara Washington dan Beijing turut meningkat tajam setelah Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi kepada perusahaan raksasa Hengli Petrochemical asal China. Sanksi ini diberikan atas tuduhan pembelian minyak dari armada bayangan Iran, yang memicu protes keras dari Beijing menjelang rencana pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping. Langkah geoekonomi ini dianggap telah menyeret perang Timur Tengah ke pusat gesekan perdagangan Amerika-China.
Harga minyak mentah Indonesia (ICP) dilaporkan telah menembus angka 102,26 dolar AS per barel, mencerminkan kepanikan pasar energi global terhadap gangguan pasokan jangka panjang. Di pasar komoditas, harga emas dunia bertahan di level tinggi sekitar 4.681 dolar AS per ons troi karena investor mencari perlindungan di tengah ketidakpastian perang. Sementara itu, Rusia dilaporkan mencetak rekor produksi gas alam cair (LNG) sebesar 3,3 juta ton untuk mengisi kekosongan pasokan di pasar Eropa.
Upaya diplomasi yang dimediasi oleh Pakistan di Islamabad menemui jalan buntu setelah Teheran secara tegas menolak pembahasan program nuklir pada tahap awal negosiasi. Presiden Donald Trump merespons dengan membatalkan rencana pengiriman utusan khusus dan menuntut inisiatif nyata dari pihak Iran jika ingin mengakhiri isolasi ekonomi. Sekretaris Jenderal PBB memperingatkan bahwa kegagalan dialog ini dapat memicu eskalasi militer yang lebih luas di seluruh kawasan regional.