Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan pelemahan selama tujuh hari berturut-turut hingga Selasa, 28 April 2026, dan parkir di level 7.072. Tekanan jual masif oleh investor asing menjadi pemicu utama koreksi ini di tengah ketidakpastian pasar global yang meningkat tajam. Nilai tukar Rupiah terpantau melemah signifikan ke posisi Rp17.266 per dolar AS, mencerminkan volatilitas tinggi pada pasar valuta asing domestik.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pemerintah terus memperkuat basis investor domestik untuk meredam gejolak pasar modal. Dalam pembukaan Pekan Reksa Dana 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Airlangga menyebut jumlah investor ritel nasional kini telah menembus angka 24,7 juta orang. Kelompok Gen Z yang mendominasi partisipasi pasar diharapkan menjadi peredam kejut alami saat terjadi arus modal keluar dari investor non-residen.
Bank Indonesia merespons situasi pasar dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,25 persen. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan langkah ini diambil untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak memburuknya risiko global serta sebagai langkah antisipatif memastikan inflasi tetap terkendali. Selain BI-Rate, suku bunga Deposit Facility juga naik ke level 5,50 persen dan Lending Facility menjadi 7,00 persen.
Di tingkat global, ekonomi Amerika Serikat dilaporkan hanya tumbuh sebesar 1,6 persen pada kuartal pertama tahun 2026, angka yang berada jauh di bawah ekspektasi konsensus pasar. Melambatnya pertumbuhan yang disertai inflasi yang masih persisten memicu kekhawatiran meluas akan terjadinya fenomena stagflasi di pasar internasional. Kondisi ini memaksa investor global untuk memindahkan portofolio mereka ke aset aman seperti emas dan mata uang dolar AS.
Otoritas Jasa Keuangan melalui Ketua Dewan Komisioner Friderica Widyasari Dewi meluncurkan program investasi terencana yang menyasar investor muda ritel di Jakarta. Program tersebut bertujuan membangun ketahanan finansial jangka panjang bagi masyarakat di tengah tekanan ekonomi makro yang dinamis. OJK optimistis bahwa struktur pasar modal Indonesia saat ini jauh lebih tangguh menghadapi guncangan eksternal dibandingkan periode krisis sebelumnya.