Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup merosot tajam sebesar 1,95 persen atau 138,33 poin ke level 6.962,89 pada perdagangan Kamis, 30 April 2026. Berdasarkan data RTI Business, sebanyak 553 saham berakhir di zona merah, sementara hanya 129 saham yang mampu menguat di tengah gelombang aksi jual masif. Seluruh indeks sektoral mencatatkan pelemahan, dengan sektor industri dan bahan baku menjadi penekan utama setelah masing-masing terkoreksi lebih dari 1 persen.

Tekanan di pasar ekuitas beriringan dengan pelemahan nilai tukar Rupiah yang kian menjauh dari asumsi makro pemerintah. Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat mata uang Garuda berada di level Rp17.378 per dolar AS pada penutupan April 2026. Kondisi ini mencerminkan tingginya premi risiko dan berlanjutnya aliran modal keluar (capital outflow) akibat sentimen penghindaran risiko oleh investor global.

Di tengah gejolak pasar, Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate pada level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur periode 21-22 April 2026. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa kebijakan moneter tetap difokuskan pada stabilitas nilai tukar serta pengendalian inflasi yang saat ini berada di angka 3,48 persen secara tahunan. BI juga menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75 persen dan Lending Facility sebesar 5,50 persen untuk menjaga likuiditas perbankan.

Faktor eksternal menjadi pemicu utama volatilitas pasar domestik, terutama menyusul laporan rencana blokade berkepanjangan terhadap Iran oleh Amerika Serikat. Ketegangan di Timur Tengah ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global dan kenaikan harga komoditas yang dapat membebani fiskal nasional. Selain itu, sikap The Fed yang mempertahankan suku bunga tinggi untuk periode lebih lama turut memperkuat indeks dolar AS terhadap mata uang negara berkembang.

Meskipun pasar keuangan tertekan, pemerintah tetap optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2026 yang diproyeksikan tumbuh di kisaran 5,2 hingga 5,5 persen. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyebut kinerja konsumsi rumah tangga dan penerimaan pajak, khususnya PPN yang melonjak 57,7 persen, menjadi mesin utama pertumbuhan. Namun, Bank Dunia memberikan peringatan dengan memangkas proyeksi pertumbuhan tahunan Indonesia menjadi 4,7 persen akibat hambatan harga minyak.

Analis pasar modal menyarankan investor untuk tetap waspada terhadap volatilitas tinggi yang diperkirakan masih akan berlanjut hingga pekan pertama Mei 2026. Fokus pelaku pasar kini tertuju pada rilis laporan kinerja keuangan emiten kuartal pertama dan langkah antisipasi pemerintah dalam meredam dampak kenaikan harga bahan bakar non-subsidi. Kapitalisasi pasar BEI sendiri tercatat berada di angka Rp12.583 triliun dengan volume perdagangan mencapai 16,5 miliar saham pada sesi penutupan hari ini.