Pasar keuangan domestik mengalami tekanan pada pembukaan pekan terakhir April 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,32 persen atau turun 22,97 poin ke level 7.106,52 pada perdagangan Senin (27/4). Sementara itu, nilai tukar rupiah terpantau stagnan di posisi Rp17.190 per dolar AS setelah sempat menguat tipis pada akhir pekan sebelumnya.
Pelemahan IHSG dipicu oleh kombinasi tekanan eksternal dan aksi jual bersih investor asing yang terus berlanjut. Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menyatakan bahwa kinerja pasar saham Indonesia saat ini termasuk salah satu yang terburuk di Asia. Hal ini disebabkan oleh sensitivitas tinggi pasar domestik terhadap kenaikan harga energi global dan volatilitas nilai tukar yang bertahan di level tinggi.
Di sisi lain, mayoritas bursa saham di kawasan Asia justru mencatatkan penguatan signifikan pada periode yang sama. Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 1,38 persen ke level 60.537, sementara Kospi Korea Selatan naik 2,15 persen. Analis menilai terjadi rotasi modal ke pasar yang lebih didorong oleh pertumbuhan sektor kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor, yang saat ini kurang terwakili dalam struktur IHSG.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi sorotan utama pelaku pasar global sepanjang minggu ini. Penutupan Selat Hormuz yang masih efektif berlangsung telah memicu kekhawatiran mendalam atas stabilitas pasokan energi dunia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan membatalkan rencana negosiasi terbaru dengan Iran, yang memperpanjang ketidakpastian di jalur perdagangan vital tersebut.
Investor kini bersikap waspada menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Suku bunga acuan atau BI-Rate diproyeksikan akan tetap dipertahankan pada level 4,75 persen untuk menjaga stabilitas moneter di tengah tekanan eksternal. Selain itu, pasar juga mencermati rencana rebalancing indeks MSCI pada 12 Mei mendatang yang diperkirakan akan memengaruhi arah arus dana portofolio asing ke depan.