Dana Moneter Internasional (IMF) merilis laporan World Economic Outlook edisi April 2026 yang menyoroti fragmentasi ekonomi global akibat intensitas ketegangan geopolitik yang semakin sistemik. Dalam laporan tersebut, IMF mencatat bahwa konflik yang meluas di Timur Tengah telah mengganggu jalur distribusi energi dan rantai pasok internasional secara signifikan. Ketidakpastian ini memicu fluktuasi harga komoditas yang mengancam stabilitas fiskal di berbagai negara berkembang.

Sejumlah negara di kawasan Timur Tengah seperti Irak, Iran, dan Qatar diproyeksikan mengalami perlambatan hingga kontraksi ekonomi pada kuartal kedua tahun 2026. Gangguan pada jalur maritim strategis menjadi faktor utama yang menghambat ekspor minyak mentah, di mana harga pasar saat ini menembus angka 102,26 dolar AS per barel. Krisis ini diperparah oleh eskalasi militer di perbatasan Israel dan Lebanon Selatan yang telah berubah menjadi zona konfrontasi terbuka sepanjang awal tahun ini.

Berbeda dengan kondisi di Timur Tengah, kawasan Asia dinilai tetap tangguh dalam menghadapi guncangan geopolitik global. IMF memproyeksikan pertumbuhan positif bagi Indonesia, India, Vietnam, dan Malaysia sebagai penopang utama ekonomi dunia di tengah kelesuan pasar Barat. Ketahanan ini didorong oleh penguatan konsumsi domestik serta langkah strategis diversifikasi mitra dagang yang dilakukan oleh negara-negara di kawasan Asia Tenggara guna mengurangi ketergantungan pada blok kekuatan tertentu.

Di Jakarta, para pelaku usaha yang tergabung dalam B57+ Asia Pacific Chapter mengadakan pertemuan pada Jumat, 24 April 2026, untuk merumuskan mitigasi risiko bisnis lintas negara. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menekankan pentingnya kolaborasi sektor swasta yang netral untuk menjaga stabilitas investasi di tengah volatilitas valuta asing. Platform ini diharapkan mampu menjadi solusi dalam meredam dampak ketegangan politik global melalui penguatan kerja sama ekonomi antarnegara anggota.

Sementara itu, rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok terus membayangi stabilitas di Laut China Selatan dan Selat Taiwan. Peningkatan kehadiran militer dan latihan perang berskala besar di wilayah tersebut memaksa banyak negara untuk meninjau kembali kebijakan keamanan energi dan logistik mereka. Fragmentasi global ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga akhir 2026, menciptakan tatanan dunia multipolar yang menuntut diplomasi lebih adaptif dari negara-negara non-blok.