Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki fase krusial setelah Iran mengajukan proposal baru untuk membuka kembali Selat Hormuz tanpa menyertakan kesepakatan nuklir. Langkah ini dilaporkan pada Senin (27/4) di tengah kebuntuan negosiasi antara Teheran dan Washington yang telah berlangsung selama beberapa pekan. Tawaran tersebut muncul saat harga minyak mentah Brent melonjak ke level tertinggi dalam tiga minggu terakhir, menyentuh angka 107,97 dolar AS per barel.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mendadak membatalkan rencana pengiriman utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Islamabad, Pakistan, untuk pembicaraan gencatan senjata. Trump menyatakan melalui Fox News bahwa pihaknya tidak akan mengirim delegasi selama Iran bersikeras menuntut pencabutan blokade pelabuhan sebelum perundingan dimulai. Komando Pusat AS melaporkan telah memutar balik sedikitnya 38 kapal kargo selama operasi blokade maritim berlangsung.
Dampak ekonomi dari konflik yang telah berjalan selama 55 hari ini mulai menekan kawasan Eropa secara signifikan. Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mengungkapkan dalam pertemuan di Siprus bahwa biaya impor bahan bakar fosil Uni Eropa membengkak hingga 25 miliar euro atau setara Rp505 triliun. Meskipun demikian, von der Leyen menilai situasi energi masih dalam batas terkendali melalui berbagai skenario antisipasi krisis listrik di negara-negara anggota.
Laporan terbaru Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) yang dirilis pada 27 April menunjukkan belanja militer global mencapai rekor 2,88 triliun dolar AS pada tahun 2025. Tren kenaikan ini dipicu oleh eskalasi di Eropa dan Asia, meskipun belanja militer AS sempat menyusut 7,5 persen menjadi 954 miliar dolar AS akibat jeda bantuan untuk Ukraina. Angka ini mencerminkan pergeseran fokus pertahanan global di tengah ketidakpastian keamanan internasional yang terus meningkat.
Di sisi lain, situasi di perbatasan Lebanon tetap tegang meski terdapat laporan perpanjangan gencatan senjata selama tiga minggu antara Israel dan Hezbollah. Militer Israel dilaporkan masih mempertahankan kontrol atas wilayah baru di Lebanon selatan berdasarkan peta militer yang diterbitkan pekan lalu. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, saat ini dilaporkan berada di Rusia untuk bertemu Presiden Vladimir Putin guna menggalang dukungan diplomatik di tengah tekanan ekonomi Barat.