Pemerintah Iran dan Amerika Serikat gagal mencapai kesepakatan dalam putaran perundingan terbaru di Islamabad, Pakistan, pada Minggu (26/4). Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan bahwa Teheran tidak akan bernegosiasi di bawah tekanan blokade maritim yang diterapkan Washington. Di sisi lain, Presiden Donald Trump membatalkan rencana kunjungan utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, yang menandakan kebuntuan total pada jalur diplomasi formal pekan ini.
Krisis di Selat Hormuz telah menyebabkan gangguan distribusi energi global karena jalur yang melayani 20 persen pasokan minyak dunia tersebut ditutup sebagian oleh armada militer. Dampaknya, harga minyak mentah Indonesia melonjak hingga 102,26 dolar AS per barel, sementara harga emas batangan di pasar domestik mencapai rekor Rp 2.825.000 per gram. Para analis ekonomi internasional memperingatkan bahwa inflasi global akan terus meningkat tajam jika blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Iran tidak segera dicabut.
Ketegangan geopolitik semakin diperparah oleh insiden keamanan di Washington Hilton saat berlangsungnya acara makan malam kenegaraan pada Sabtu malam (25/4). Pasukan pengamanan Secret Service mengevakuasi Presiden Trump setelah terdengar serangkaian ledakan kuat di sekitar lokasi dewan makan yang memicu kepanikan massal. Meski suspek utama telah ditahan pihak berwenang, insiden ini memicu kekhawatiran akan stabilitas internal Amerika Serikat di tengah operasi militer 'Epic Fury' yang masih berlangsung di Timur Tengah.
Di kawasan Indo-Pasifik, eskalasi militer meningkat seiring dimulainya latihan gabungan Balikatan yang melibatkan 17.000 personel dari Amerika Serikat, Filipina, dan Jepang. China merespons aktivitas tersebut dengan menggelar latihan tembakan langsung di perairan timur Pulau Luzon, mempertegas persaingan supremasi di Laut China Selatan. Pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Sugiono mendesak semua pihak untuk menahan diri guna mencegah terciptanya titik konflik baru yang dapat mengganggu rantai pasok global.