Angkatan Laut Amerika Serikat melalui kapal perusak rudal USS Spruance dilaporkan telah menyita kapal kargo berbendera Iran, Touska, di perairan Teluk Oman. Presiden Donald Trump mengonfirmasi operasi tersebut pada Minggu (26/4/2026) dan menyatakan bahwa pasukan marinir sedang melakukan pemeriksaan intensif terhadap muatan kapal yang diduga melanggar blokade maritim.

Langkah militer ini memicu reaksi keras dari Teheran yang langsung memberlakukan penutupan total di Selat Hormuz sebagai bentuk balasan. Jalur strategis yang menyalurkan sepertiga pasokan minyak dunia tersebut kini berada dalam status blokade, menghentikan seluruh lalu lintas kapal tanker internasional yang melintasi kawasan tersebut.

Harga minyak mentah jenis Brent merespons tajam dengan menembus angka US$112 per barel di pasar komoditas global pada Selasa (28/4/2026). Para analis ekonomi memperingatkan bahwa kebuntuan diplomasi ini dapat memicu krisis energi berkepanjangan jika jalur pelayaran internasional tidak segera dibuka kembali dalam waktu dekat.

Di sisi diplomatik, upaya mediasi yang digagas Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di Islamabad dilaporkan menemui jalan buntu. Media pemerintah Iran, IRIB, menegaskan bahwa Presiden Masoud Pezeshkian belum memiliki rencana untuk melanjutkan putaran negosiasi baru dengan pihak Washington menyusul insiden penyitaan kapal tersebut.

Situasi di Lebanon Selatan turut memperkeruh stabilitas kawasan setelah kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah dilaporkan mengalami pelanggaran serius. Militer Israel mengonfirmasi gugurnya satu tentara dalam kontak senjata terbaru, yang memicu ancaman balasan militer lebih besar dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Para pemimpin negara-negara Teluk saat ini tengah berkumpul di Arab Saudi untuk membahas langkah-langkah darurat guna mencegah meluasnya konflik di kawasan. Qatar secara terbuka memperingatkan semua pihak agar tidak menjadikan jalur maritim internasional sebagai alat tekanan politik yang dapat melumpuhkan ekonomi global.