Pekan ini, situasi geopolitik di Selat Hormuz dilaporkan memanas menyusul ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang mengancam jalur distribusi energi dunia. Kantor berita Antara melaporkan bahwa pembukaan kembali selat strategis tersebut menjadi perhatian utama setelah sempat terjadi gesekan armada militer di kawasan tersebut.
Data terbaru yang dirilis pada April 2026 menunjukkan belanja militer global telah mencatatkan rekor baru sebesar US$ 2,46 triliun. Laporan Metro TV menyebutkan bahwa sekitar 40 persen dari total anggaran tersebut didominasi oleh Amerika Serikat, dengan proyeksi peningkatan mencapai US$ 2,63 triliun pada tahun mendatang akibat konflik yang belum mereda di Ukraina dan Timur Tengah.
Menanggapi dinamika tersebut, Presiden Indonesia Prabowo Subianto melakukan langkah diplomasi dengan menemui Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas stabilitas kawasan. Di sisi lain, Megawati Soekarnoputri mengusulkan penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika Jilid II sebagai upaya kolektif negara-negara berkembang dalam meredam polarisasi kekuatan besar dunia.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan skenario mitigasi ekonomi untuk menjaga defisit APBN tetap di bawah 3 persen. Langkah ini diambil guna mengantisipasi lonjakan harga minyak mentah Indonesia yang sempat menyentuh angka 102,26 dolar AS per barel akibat gangguan rantai pasok global.
Anggota DPR RI Dave Laksono dalam diskusi di Kompleks Parlemen Senayan menekankan pentingnya kedaulatan energi dan pangan nasional di tengah ketidakpastian global. Ia menyatakan bahwa ketergantungan pada impor bahan bakar minyak masih menjadi tantangan besar, sehingga percepatan pembangunan infrastruktur cadangan energi nasional menjadi prioritas krusial bagi pertahanan Indonesia.