PT BYD Motor Indonesia mengonfirmasi bahwa pembangunan fasilitas manufaktur di Subang, Jawa Barat, kini telah memasuki tahap akhir integrasi peralatan. Head of Public and Government Relations BYD Indonesia, Luther T. Panjaitan, menyatakan pada Kamis (23/4/2026) bahwa perusahaan sedang melakukan pengujian intensif untuk memastikan standar kualitas sebelum memulai produksi massal. Pabrik ini diproyeksikan menjadi tulang punggung BYD dalam memenuhi permintaan domestik yang melonjak tajam sepanjang awal tahun 2026.

Hingga pekan ini, BYD telah mengantongi sejumlah sertifikasi krusial seperti Sertifikat Standard, World Manufacturer Identifier (WMI), serta sertifikat IKD (Incompletely Knocked Down). Kelengkapan dokumen legalitas ini memungkinkan BYD untuk segera merakit unit secara lokal guna meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Perusahaan juga mulai melakukan penyerapan tenaga kerja lokal secara bertahap untuk mendukung operasional lini produksi di kawasan Subang Smartpolitan tersebut.

Langkah percepatan produksi ini bertepatan dengan berlakunya Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 11 Tahun 2026 mulai 1 April lalu. Regulasi terbaru ini menetapkan bahwa kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) tidak lagi otomatis mendapatkan pembebasan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama (BBNKB). Wewenang pemberian insentif kini dialihkan kepada pemerintah daerah, yang memicu kekhawatiran akan kenaikan biaya kepemilikan kendaraan listrik bagi konsumen.

Kementerian Perindustrian melalui Direktur Jenderal ILMATE, Setia Diarta, berharap perubahan skema pajak ini tidak mengganggu momentum pertumbuhan industri EV nasional. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), pangsa pasar mobil listrik di Indonesia telah mencapai 15,6 persen per Maret 2026. Pemerintah terus memantau dampak kebijakan fiskal daerah agar target dekarbonisasi sektor transportasi tetap berada pada jalurnya.

Di sisi persaingan, BYD saat ini masih memimpin pasar EV Indonesia dengan pangsa pasar sekitar 41 persen, diikuti oleh produsen lain seperti Hyundai dan Wuling. Investasi BYD yang mencapai lebih dari Rp11 triliun menunjukkan komitmen jangka panjang pabrikan asal Tiongkok tersebut di pasar Asia Tenggara. Selain BYD, kolaborasi Toyota dan CATL di Karawang juga dijadwalkan mulai memproduksi baterai lokal pada semester kedua tahun ini untuk memperkuat ekosistem hulu ke hilir.