Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS mencatatkan rekor terlemah sepanjang sejarah dengan ditutup pada level Rp17.346 pada perdagangan Kamis, 30 April 2026. Pelemahan sebesar 0,12 persen ini terjadi di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia hingga menembus angka 92 dolar AS per barel. Analis Senior Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa terhambatnya diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat menjadi pemicu utama kekhawatiran inflasi global saat ini.

Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tersungkur di bawah level psikologis 7.000 dengan koreksi tajam sebesar 2,03 persen ke posisi 6.956,80 pada penutupan bulan April. Data bursa menunjukkan investor asing melakukan aksi jual bersih senilai Rp8,56 triliun dalam sepekan terakhir. Sektor bahan baku dan industri memimpin kejatuhan pasar dengan penurunan masing-masing sebesar 3,77 persen dan 3,21 persen akibat sentimen negatif global.

Tekanan pasar domestik juga dipengaruhi oleh keputusan Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,5 hingga 3,75 persen dalam rapat terakhir Jerome Powell sebagai Ketua Fed. Keputusan tersebut diwarnai oleh perbedaan pendapat empat anggota komite yang menginginkan kebijakan berbeda, jumlah disiden tertinggi sejak tahun 1992. Ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat ini membuat aliran modal keluar dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia semakin deras.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan fundamental ekonomi nasional tetap solid dengan proyeksi pertumbuhan kuartal I-2026 tetap berada di atas 5,5 persen. Pemerintah mengandalkan belanja negara, termasuk percepatan program Makan Bergizi Gratis sebesar Rp286 triliun, untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan harga energi. Namun, pasar masih mencermati isu tata kelola pada badan pengelola investasi Danantara yang baru-baru ini mendapat catatan dari lembaga pemeringkat Fitch Ratings.

Bank Indonesia sebelumnya telah memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur 22 April lalu guna menjaga stabilitas moneter. Gubernur BI Perry Warjiyo menekankan bahwa fokus utama otoritas saat ini adalah stabilisasi nilai tukar untuk memitigasi dampak buruk dari ketidakpastian geopolitik global. Meskipun cadangan devisa masih mencukupi, volatilitas pasar diperkirakan akan tetap tinggi hingga rilis data inflasi bulan April pada pekan mendatang.