Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan bahwa posisi nilai tukar rupiah yang saat ini berada di atas level Rp17.100 per dolar Amerika Serikat (AS) sudah masuk kategori undervalued. Dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu, 22 April 2026, Perry menyebut nilai tersebut lebih rendah dibandingkan nilai fundamental ekonomi nasional. Meski tertekan, mata uang Garuda sempat menguat tipis 0,06 persen ke level Rp17.130 pada pembukaan perdagangan pagi tersebut.
Pelemahan rupiah ini dipicu oleh indeks dolar AS (DXY) yang tetap perkasa di level 98,35 serta meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. BI meyakini bahwa rupiah memiliki potensi untuk kembali menguat didukung oleh imbal hasil aset domestik yang menarik dan prospek ekonomi RI yang stabil. Bank sentral berkomitmen untuk terus berada di pasar guna melakukan stabilisasi nilai tukar melalui berbagai instrumen moneter.
Sementara itu, dalam rangkaian IMF-World Bank Spring Meetings di Washington D.C. pada 16-17 April 2026, Perry melaporkan bahwa ekonomi global masih menunjukkan resiliensi. Namun, Dana Moneter Internasional (IMF) memberikan catatan serius mengenai kompleksitas tantangan akibat konflik di Timur Tengah yang belum mereda. Ketegangan geopolitik tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu pasokan energi dan memicu inflasi global yang lebih tinggi.
Chairman International Monetary and Financial Committee (IMFC) Mohammed Aljadaan mengingatkan bahwa dampak ekonomi dari konflik tersebut akan sangat bergantung pada durasi dan intensitasnya. Jika krisis berlanjut, harga bahan bakar dan pupuk diprediksi akan tetap tinggi dalam jangka waktu lama, yang memberatkan neraca eksternal banyak negara. Kondisi ini menuntut bank sentral di seluruh dunia untuk tetap waspada dalam menjaga stabilitas harga.
Di dalam negeri, BI memastikan bauran kebijakan tetap diarahkan pada stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan melalui pengelolaan likuiditas yang hati-hati. Sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal terus diperkuat guna memitigasi dampak rambatan dari volatilitas pasar global. Fokus utama otoritas saat ini adalah menjaga daya tarik aset domestik agar aliran modal asing tetap masuk ke pasar keuangan Indonesia.