Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau melemah tajam hingga menembus level Rp17.235 pada perdagangan Senin, 27 April 2026. Berdasarkan data pasar real-time, mata uang Garuda bergerak di rentang Rp17.195 hingga Rp17.235 per dolar AS, mencerminkan tekanan eksternal yang masih tinggi terhadap ekonomi domestik di awal kuartal kedua.
Kondisi pelemahan mata uang ini berimbas langsung pada performa pasar modal nasional, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan tren negatif selama empat hari beruntun. Laporan bursa menyebutkan sepuluh sektor saham berakhir di zona merah, dengan sektor barang konsumen non-primer mencatat penurunan paling signifikan di tengah kekhawatiran melambatnya daya beli masyarakat.
Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan sempat memberlakukan kebijakan trading halt atau penghentian perdagangan sementara selama 30 menit setelah indeks mengalami kontraksi hingga 5 persen dalam satu sesi. Otoritas bursa menyatakan langkah ini krusial untuk mencegah volatilitas yang lebih ekstrem serta memberikan waktu bagi pelaku pasar untuk mencerna informasi fundamental secara lebih rasional.
Di tengah ketidakpastian makroekonomi tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian merilis kebijakan insentif pajak untuk sektor transportasi udara mulai akhir pekan ini. Langkah strategis tersebut diambil pemerintah guna menekan kenaikan harga tiket pesawat yang terbebani oleh lonjakan biaya operasional maskapai akibat depresiasi nilai tukar rupiah yang berkelanjutan.