Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) merosot tajam hingga menyentuh level psikologis baru Rp17.304 pada perdagangan Jumat, 24 April 2026. Pelemahan sebesar 0,72 persen ini menandai titik terendah sepanjang sejarah, memperpanjang tren negatif setelah Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen pada Rabu sebelumnya. Tekanan jual masif di pasar valuta asing terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap ketahanan fiskal domestik di tengah lonjakan harga energi global.

Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama setelah perundingan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan dinyatakan gagal. Kegagalan diplomasi ini berdampak langsung pada meroketnya harga minyak mentah jenis Brent ke posisi 103 dolar AS per barel dan West Texas Intermediate (WTI) di level 98 dolar AS per barel. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebutkan bahwa penangkapan kapal tanker di Selat Hormuz telah mengganggu rantai pasok minyak nasional, mengingat kebutuhan impor Indonesia mencapai 1,5 juta barel per hari.

Sentimen negatif global turut memukul pasar modal domestik di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ambruk 2,16 persen ke level 7.378 pada sesi perdagangan akhir pekan. Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan aksi jual bersih oleh investor asing meningkat signifikan, terutama pada saham-saham sektor perbankan dan manufaktur. Kondisi ini mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi pelebaran defisit APBN 2026 akibat beban subsidi energi yang melampaui asumsi awal pemerintah.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan bahwa nilai tukar Rupiah saat ini berada dalam posisi undervalued jika dibandingkan dengan fundamental ekonomi nasional. BI berkomitmen untuk meningkatkan intensitas intervensi di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) guna menjaga stabilitas nilai tukar dari volatilitas yang berlebihan. Perry menegaskan bahwa cadangan devisa Indonesia yang berada di level 148,15 miliar dolar AS masih cukup memadai untuk meredam gejolak pasar dalam jangka pendek.

Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tetap optimis bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mampu mencapai minimal 5,5 persen. Capaian tersebut didorong oleh kuatnya konsumsi rumah tangga selama periode hari besar keagamaan dan penyaluran tunjangan hari raya yang mencapai Rp809 triliun. Namun, pemerintah tetap mewaspadai risiko stagflasi global dan terus berkoordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk memitigasi dampak rambatan konflik internasional terhadap ekonomi domestik.