Angkatan Laut Amerika Serikat menyita kapal kargo berbendera Iran, Touska, di sekitar Selat Hormuz pada 19 April 2026. Tindakan ini memicu ancaman balasan dari Teheran dan memperburuk risiko kegagalan diplomasi yang dimediasi oleh Pakistan di Washington. Ketegangan tersebut terjadi di tengah masa gencatan senjata yang rapuh di kawasan Asia Barat Daya.

Di meja perundingan, proses diplomasi mengalami kebuntuan setelah negosiator utama Teheran dilaporkan mengundurkan diri pada Jumat, 24 April 2026. Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak akan terburu-buru mencapai kesepakatan baru dengan Iran. Sikap ini memperkeruh sentimen pasar global yang mengkhawatirkan terjadinya disrupsi pasokan energi di jalur maritim strategis.

Sementara itu, situasi di perbatasan Israel dan Lebanon tetap kritis meski gencatan senjata telah dimulai sejak 16 April 2026. Militer Israel merilis peta wilayah baru pada 19 April yang menunjukkan kontrol atas sejumlah titik di Lebanon selatan. Langkah tersebut memicu protes diplomatik dan kekhawatiran akan pecahnya kembali konflik terbuka di kawasan tersebut dalam waktu dekat.

Dampak geopolitik ini merembet ke sektor ekonomi Indonesia dengan melemahnya nilai tukar Rupiah hingga menyentuh Rp 17.312 per dolar AS pada Kamis, 23 April 2026. Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menyebut tekanan eksternal dari konflik AS-Iran menjadi faktor dominan pelemahan mata uang garuda. Selain itu, harga minyak mentah Brent dilaporkan melonjak melampaui angka USD 115 per barel akibat kekhawatiran blokade Selat Hormuz.

Di belahan dunia lain, Uni Eropa secara resmi menyetujui pinjaman sebesar €90 miliar untuk Ukraina pada 23 April 2026 sebagai bagian dari paket bantuan pertahanan. Paket ini disertai dengan penerapan sanksi ke-20 terhadap Rusia guna menekan kemampuan logistik militer Moskow di medan tempur. Langkah tersebut semakin mempertegas polarisasi kekuatan global antara blok Barat dan sekutunya di tengah ketidakpastian keamanan dunia.