Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menembak dan menghancurkan kapal Iran yang mencoba memblokade atau memasang ranjau di Selat Hormuz. Perintah tegas ini dikeluarkan pada Kamis (23/4) menyusul insiden penembakan kapal kontainer oleh militer Iran di jalur pelayaran vital tersebut. Trump menegaskan bahwa militer AS akan mengambil tindakan tanpa ragu untuk menjaga kendali penuh atas jalur pasokan energi dunia.
Eskalasi ini memuncak di tengah masa gencatan senjata yang kian rapuh antara blok AS-Israel dan Iran sejak pecahnya konflik pada akhir Februari 2026. Berdasarkan data terbaru hingga April 2026, jumlah korban jiwa di pihak Iran telah menembus 2.076 orang dengan puluhan ribu lainnya luka-luka. Sementara itu, Lebanon melaporkan 1.345 kematian dan pihak militer Amerika Serikat mencatat kehilangan 13 personel selama operasi berlangsung.
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva memperingatkan bahwa konflik bersenjata ini telah memicu guncangan pasokan global yang sangat signifikan. Distribusi minyak mentah dunia dilaporkan menyusut sebesar 13 persen, sementara pasokan gas alam cair (LNG) turun hingga 20 persen per hari. Gangguan ini diperkirakan akan memicu penutupan kilang minyak di berbagai negara serta krisis bahan bakar dan pangan yang meluas.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi merespons dengan menyebut blokade pelabuhan oleh AS sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan damai sementara. Teheran bersikeras mempertahankan otoritas di perairan mereka dan menolak negosiasi yang dimediasi Pakistan selama tekanan militer terus meningkat. Di sisi lain, intelijen melaporkan adanya pertikaian internal di Iran antara faksi garis keras dan moderat terkait arah kebijakan perang.
Dinamika global semakin kompleks setelah Rusia dan China mulai melakukan pergerakan diplomatik untuk mengamankan kepentingan mereka di kawasan tersebut. Meskipun belum terlibat dalam konfrontasi fisik, kehadiran pengaruh kedua negara ini menambah tekanan pada stabilitas internasional. Hingga saat ini, pasar komoditas global dan rute penerbangan internasional tetap berada dalam status waspada tinggi terhadap potensi perang terbuka.