Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi memperpanjang masa gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu yang ditentukan. Keputusan ini diumumkan pada Kamis (23/4/2026) melalui pernyataan resmi di Gedung Putih, yang sekaligus menepis spekulasi mengenai dimulainya kembali serangan udara besar-besaran dalam waktu dekat. Trump menegaskan bahwa tidak ada tekanan waktu bagi Washington untuk segera mencapai kesepakatan damai permanen dengan pihak Teheran.

Meski gencatan senjata berlangsung, Angkatan Laut Amerika Serikat tetap memperketat blokade maritim di sekitar pelabuhan utama Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan telah memerintahkan sedikitnya 31 kapal komersial untuk memutar balik atau kembali ke pelabuhan asal sejak blokade dimulai pada 13 April lalu. Tindakan ini memicu reaksi keras dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang menganggap blokade tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata sementara.

Situasi di Selat Hormuz kembali memanas setelah militer Iran dilaporkan menyerang tiga kapal komersial pada Rabu (22/4/2026) malam. Langkah ini diambil Teheran sebagai respons atas penyitaan kapal kargo berbendera Iran, Touska, oleh Marinir AS di dekat Bandar Abbas pada akhir pekan sebelumnya. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa blokade ekonomi dan ancaman militer AS merupakan hambatan utama bagi keberhasilan negosiasi diplomatik yang tengah berlangsung di Islamabad, Pakistan.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan bahwa militer Israel (IDF) telah menyiapkan target-target baru dan hanya menunggu instruksi dari Amerika Serikat untuk melanjutkan agresi. Sejak perang pecah pada 28 Februari 2026, serangan udara gabungan AS-Israel dilaporkan telah menghantam lebih dari 13.000 target strategis di seluruh wilayah Iran. Eskalasi ini terus mengganggu stabilitas pasar energi global dan memicu lonjakan harga minyak mentah di bursa internasional.

Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa kendali penuh atas durasi operasi militer berada sepenuhnya di tangan panglima tertinggi. Sementara itu, Iran tetap menuntut pengakhiran blokade secara total sebagai syarat mutlak untuk melanjutkan dialog damai yang dimediasi oleh Pakistan. Hingga saat ini, ribuan personel tambahan militer AS terus dikirim ke wilayah Timur Tengah guna memperkuat posisi pertahanan dan pengawasan di perairan strategis tersebut.