Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang meninjau proposal terbaru dari Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Pertemuan di Situation Room pada Senin (27/4/2026) dilakukan setelah Iran memblokade jalur minyak vital tersebut selama dua bulan terakhir. Langkah Iran tersebut telah memicu guncangan ekonomi global dan kenaikan harga energi yang signifikan di pasar internasional.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan proposal tersebut melalui mediator Pakistan di Islamabad pada akhir pekan lalu. Teheran menuntut jaminan tertulis bahwa Amerika Serikat dan Israel tidak akan meluncurkan serangan militer baru di masa depan. Selain itu, Iran mendesak pengakhiran blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan utama mereka sebagai syarat utama pembukaan kembali navigasi internasional.

Konflik bersenjata ini pecah sejak 28 Februari 2026, diawali dengan serangan udara besar-besaran AS-Israel ke fasilitas nuklir dan situs pemerintahan di Iran. Insiden tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, yang kemudian digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei. Sejak saat itu, ketegangan meluas hingga melibatkan serangan drone dan rudal balistik yang menyasar pangkalan militer di seluruh kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan sejak 8 April mulai menunjukkan tanda-tanda keretakan akibat ketidaksepakatan mengenai program nuklir. Israel dilaporkan telah mengerahkan baterai pertahanan udara Iron Dome ke Uni Emirat Arab untuk memperkuat aliansi regional melawan ancaman drone. Sementara itu, Dewan Keamanan PBB terus mendesak penghentian agresi permanen guna mencegah resesi ekonomi dunia yang lebih dalam.

Bersamaan dengan krisis di Teluk, perang di Ukraina tetap memanas dengan Rusia meluncurkan sedikitnya 94 drone dalam 24 jam terakhir. Presiden Volodymyr Zelenskyy menyatakan pasukan Ukraina berhasil mencegat lebih dari 90 persen serangan tersebut menggunakan sistem pertahanan udara terbaru. Meski demikian, fokus diplomasi internasional pekan ini tetap tertuju pada negosiasi Washington-Teheran yang dianggap sebagai kunci stabilitas global saat ini.