Situasi di Timur Tengah semakin kritis pada Selasa (28/4/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap draf proposal perdamaian yang diajukan Iran. Konflik yang melibatkan blok AS-Israel melawan Iran ini telah memasuki hari ke-59 tanpa tanda-tanda deeskalasi militer yang signifikan di lapangan. Laporan intelijen menunjukkan bahwa pertempuran masih berlanjut di beberapa titik strategis meskipun tekanan internasional untuk gencatan senjata terus meningkat.
Di Washington, Trump memanggil tim keamanan nasionalnya untuk membahas langkah lanjutan setelah negosiasi di meja perundingan menemui jalan buntu. Meskipun Iran menawarkan kerangka kerja untuk mengakhiri perang, Gedung Putih menilai poin-poin dalam dokumen tersebut belum memenuhi syarat utama, termasuk pembongkaran permanen fasilitas nuklir Fordow dan Natanz. Ketegangan ini diperparah dengan ancaman penutupan permanen jalur pelayaran internasional oleh pihak Teheran.
Dampak ekonomi dari peperangan ini mulai melumpuhkan pasokan energi dunia dengan penurunan distribusi minyak global sebesar 13 persen dan gas alam cair (LNG) hingga 20 persen. Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, memperingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga komoditas yang mengancam stabilitas ekonomi banyak negara berkembang. Krisis bahan bakar kini mulai dirasakan di berbagai belahan dunia akibat terhambatnya jalur logistik laut.
Di medan tempur, serangan udara dilaporkan masih menyasar infrastruktur militer, sementara sistem pertahanan udara Iran diklaim berhasil menjatuhkan sejumlah aset udara milik Amerika Serikat. Data dari Human Rights Activist News Agency mencatat angka kematian warga sipil telah mencapai 1.606 jiwa sejak eskalasi besar pecah pada awal tahun ini. PBB terus mendesak agar koridor kemanusiaan dibuka bagi jutaan warga yang terjebak di zona konflik.
Sebagai upaya diplomatik terakhir, Trump mengutus penasihat senior Jared Kushner dan Steven Witkoff ke Pakistan untuk membuka jalur komunikasi belakang dengan Teheran. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran bahwa kegagalan negosiasi kali ini akan memicu perang terbuka yang lebih luas di kawasan tersebut. Hingga saat ini, komunitas internasional masih menunggu respons resmi Iran terhadap misi diplomatik mendadak dari pihak Washington tersebut.