Produsen otomotif asal Vietnam, VinFast, resmi memulai produksi massal kendaraan listrik di pabrik barunya yang berlokasi di Subang, Jawa Barat, pada awal April 2026. Langkah ini diawali dengan perakitan model VF5 setelah melewati fase uji coba kualitas sejak Februari lalu. CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, menyatakan bahwa fasilitas ini akan terus ditingkatkan untuk memproduksi model VF3 dan VF7 guna mempercepat distribusi domestik.
Momentum produksi lokal ini bertepatan dengan pergeseran peta persaingan mobil listrik di Indonesia berdasarkan data wholesales Gaikindo Maret 2026. Jaecoo J5 EV secara mengejutkan berhasil merebut posisi puncak sebagai mobil listrik terlaris dengan catatan distribusi 2.959 unit. Angka ini mengakhiri dominasi panjang BYD Atto 1 yang penjualannya merosot ke angka 672 unit pada periode yang sama akibat penyesuaian stok.
Secara keseluruhan, pasar kendaraan listrik (EV) di Indonesia menunjukkan pertumbuhan masif sebesar 95,9 persen pada kuartal pertama 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Total akumulasi penjualan mencapai 33.150 unit, didorong oleh strategi harga agresif dari pabrikan Tiongkok dan Vietnam. BYD Atto 1, misalnya, kini dibanderol mulai dari Rp199 juta (OTR Jakarta) untuk tetap bersaing di segmen entry-level yang semakin padat.
Di level global, persaingan antara raksasa otomotif juga memanas setelah Tesla dilaporkan merebut kembali takhta penjualan EV murni dari BYD pada awal 2026. Tesla mengirimkan sekitar 358.023 unit kendaraan di seluruh dunia selama Januari hingga Maret, naik 6,5 persen. Sementara itu, BYD mencatatkan penurunan pengiriman kendaraan listrik murni sebesar 25,5 persen menjadi 310.389 unit di periode yang sama.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan bahwa tahun 2026 merupakan tonggak sejarah bagi industri otomotif nasional dengan beroperasinya fasilitas manufaktur lokal. Kehadiran pabrik VinFast dan kemajuan pembangunan pabrik BYD di Subang memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai global. Pemerintah terus mendorong penggunaan komponen lokal hingga 40 persen untuk memastikan kemandirian industri hijau.